Seperti dalam kisah cinta kebanyakan, sepasang kekasih yang berpisah itu akhirnya bersatu kembali di bawah cahaya bulan purnama. Cak Kartolo memegang erat tangan Yu Ning, istrinya, lalu berjanji tidak akan mengurusi negara dan politik. “Aku ngurus*i *rumah tangga saja,” katanya. Yu Ning mengangguk dan balik berjanji tak akan lagi meminta suaminya itu untuk terjun ke dunia politik demi uang dan kekuasaan. Ya, semua prahara dan dilema itu sudah berakhir dan cinta akhirnya pulih.
Setelah itu, lagu Dewa-Dewi karya Sujiwo Tejo mengalun, membuat pentas ludruk Kartolo Mbalelo: Memandang Indonesia Secara Jenaka itu diakhiri dengan terlalu manis, kurang jenaka dan urakan. Dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat-Sabtu pekan lalu, *Kartolo Mbalelo *merupakan bagian dari proyek “Indonesia Kita” yang digagas oleh seniman Butet Kertaradjasa, Djaduk Ferianto, Agus Noor, dan kawan-kawan. “Indonesia Kita” adalah proyek yang bertujuan mempromosikan keragaman budaya Indonesia dalam wujud pentas kesenian.
Kartolo Mbalelo merupakan edisi ketiga “Indonesia Kita” sesudah Laskar Dagelan dan Beta Maluku. Seperti dua pentas sebelumnya, pertunjukan ini merepresentasikan kesenian dari daerah tertentu. Jika Laskar Dagelan adalah representasi kesenian Yogya dan Beta Maluku mewakili Maluku, maka *Kartolo Mbalelo *hadir sebagai wakil kesenian Jawa Timur. Disebut sebagai musikal ludrukan, pertunjukan ini memang mengambil inspirasi utama dari kesenian ludruk.
Ludruk merupakan drama tradisional asal Jawa Timur yang ceritanya mengambil dari persoalan rakyat sehari-hari dengan diselingi musik dan lawakan. Berbeda dengan ketoprak Jawa Tengah yang banyak berkisah tentang kaum bangsawan masa kerajaan, cerita ludruk berpusat pada rakyat kecil dengan masalah-masalah konkret yang mereka alami sehari-hari. Dalam ludruk, para pemain menggunakan bahasa-bahasa lugas supaya mudah dipahami penontonnya yang berasal dari rakyat biasa.
Disutradarai seniman serba bisa Sujiwo Tejo, Kartolo Mbalelo melibatkan sejumlah seniman Jawa Timur yang malang-melintang di dunia ludruk. Tokoh utama pertunjukan ini adalah Cak Kartolo, pemain ludruk legendaris berusia 64 tahun yang sudah aktif di dunia ludruk sejak 1960-an. Dua karib Kartolo juga ikut dalam pentas ini, yakni Yu Ning dan Cak Sapari. Ada pula Cak Lontong, Nurbuat, Rohana, Inul Daratista, dan kelompok Loedroek ITB. Selain itu, dua tokoh politik Indonesia hadir sebagai bintang tamu, yakni Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD dan Wakil Ketua DPR Pramono Anung.
Pentas Kartolo Mbalelo cukup taat pada sejumlah pakem ludruk sekaligus melakukan sejumlah improvisasi yang menarik. Pada bagian awal pertunjukan ini, misalnya, ditampilkan Tari Remo yang memang biasanya disajikan sebagai pembuka ludruk. Tapi, alih-alih menyajikan Tari Remo secara biasa, Sujiwo Tejo mengganti kostum para penarinya dengan pakaian ala penari kontemporer yang gaul dan meriah. Ketaatan pada pakem ludruk juga terlihat dengan munculnya tokoh Sakerah, seorang jagoan legendaris yang sangat dikenal di sejumlah daerah di Jawa Timur. Dalam ludruk konvensional, tokoh pejuang kelahiran Pasuruan yang hidup pada abad ke-19 itu memang selalu muncul.
Kartolo Mbalelo bercerita tentang seorang seniman ludruk bernama Kartolo yang diajak bergabung ke dalam sebuah partai politik. Tapi, Kartolo yang tidak tertarik pada politik menampik tawaran itu. Yu Ning marah terhadap sikap suaminya itu karena menganggap politik adalah jalan pintas menuju kekayaan. Yu Ning lalu memutuskan berpisah dengan Kartolo.
Secara umum, tidak ada yang baru dalam kisah Kartolo Mbalelo ini. Sinisme, ejekan, dan kemuakan terhadap dunia politik Indonesia mutakhir yang terangkum dalam kisah ini adalah hal-hal yang sudah jamak kita temui di manapun. Tokoh Kartolo juga digambarkan nyaris sempurna: seolah-olah dia bukan manusia yang bisa tergoda pada uang dan perempuan.
Yang menarik dalam pentas ini justru terletak pada perubahan tiba-tiba yang terjadi di tengah proses penggarapannya. Semula, naskah asli pentas ini—yang ditulis Agus Noor—sangat kental nuansa politisnya. Namun, karena Cak Kartolo ogah berbicara politik, maka harus ada penyuntingan yang cukup drastis. Porsi pembicaraan politik dioper ke tokoh lain, dan masalah politik yang dialami tokoh Kartolo dalam pentas ini ditarik ke ranah domestik.
Jadi, problem utama tokoh Kartolo bukanlah menerima atau menolak tawaran bergabung dengan partai politik, tapi pada sikap anti-politiknya yang berpengaruh pada kehidupan rumah tangganya. Penolakan Kartolo pada jabatan di partai politik membuat istrinya memilih meninggalkan dia. Konstruksi cerita semacam ini sebenarnya bisa ditarik ke konflik yang lebih personal dan sublim, tapi sayang itu tidak terjadi. Akhirnya, kisah pentas ini menjadi terlalu datar.
Meski begitu, sebagai sebuah hiburan, Kartolo Mbalelo tetap sangat layak ditonton. Walau humor-humor dalam pentas ini tidak selucu dalam Laskar Dagelan, tapi lawakan Cak Kartolo dan kawan-kawan cukup bisa mengocok perut. Sejumlah lagu, tarian, dan unjuk kanuragan yang disajikan dalam pertunjukan ini juga sangat menghibur. Secara umum, Kartolo Mbalelo berhasil sebagai pentas hiburan. Pentas ini juga berhasil merefleksikan kesenian Jawa Timur meski tidak meninggalkan bekas yang sangat mendalam.
Haris Firdaus