Langsung ke isi
Kembali

Arsip · 2011

Menjadi Ideologis Lagi

Dalam sebuah esai yang saya tulis beberapa saat sesudah Pemilu 2009, saya bercerita tentang seorang pedagang makanan keliling yang memakai kaos Partai Gerindra tapi di gerobaknya tertempel stiker P...

Dalam sebuah esai yang saya tulis beberapa saat sesudah Pemilu 2009, saya bercerita tentang seorang pedagang makanan keliling yang memakai kaos Partai Gerindra tapi di gerobaknya tertempel stiker Partai Keadilan Sejahtera. Dalam sebuah masyarakat politik yang ideologis, fenomena semacam ini mungkin sebuah keanehan, tapi di Indonesia hari ini, orang dengan dua simbol partai politik sekaligus adalah hal lumrah.

Kaos dan stiker partai, bagi sang penjual makanan itu, sama sekali tidak menunjukkan afiliasi politik apapun. Dia pakai kaos Gerindra karena diberi dan menempel stiker PKS juga karena diberi. Bukan karena dia mendukung dua partai itu. Jika fenomena kecil ini kita tarik ke ranah yang jauh lebih besar, maka kita akan mendapat suatu gambar tentang dunia politik Indonesia sekarang: sebuah dunia politik yang tanpa ideologi.

Bila memakai simbol partai tidak selalu sama dengan afiliasi politik, maka berafiliasi pada satu partai politik tertentu juga belum tentu sama dengan menganut ideologi tertentu. Banyak orang yang sudah mengemukakan hal ini, tapi saya ingin mengingatkan: ideologi di sini bukan hanya mengacu pada ideologi politik besar—semacam sosialisme atau komunisme—tapi juga berkait semacam sikap politik tertentu yang unik tapi tak harus berkait dengan ideologi besar.

Faktanya, partai politik Indonesia adalah organisasi pragmatis yang bekerja hampir tanpa panduan sikap politik yang jelas. PKS boleh saja mengajarkan ideologi pada para kader-kadernya tapi sikap politik elitenya juga seringkali menunjukkan sebuah pola acak yang hampir-hampir tak bisa diidentifikasi afiliasinya dengan sikap politik tertentu yang konsisten.

Ideologi-ideologi besar yang pernah kita kenal memang sudah dinyatakan “mati” oleh Daniel Bell, dengan maksud bahwa masa depan kita tidak bergantung pada ideologi-ideologi itu tapi pada sikap rasional dan pragmatis. Bell menyatakan, problem-problem kehidupan yang datang pada manusia tidak bisa lagi dipecahkan dengan mengacu pada ideologi politik. Pemecahan masalah itu mestilah mengacu pada perkembangan ilmu dan teknologi yang sifatnya rasional.

Tapi matinya ideologi besar bukanlah akhir dari sikap politik. Dalam sebuah artikel yang luar biasa bagus, Budiman Sudjatmiko menggambarkan bahwa ideologi tidak hanya berkait dengan ideologi politik, tapi juga bisa dianggap sebagai “sistem nilai yang membentuk cara pandang individu dalam memahami dan merespon persoalan yang ada di sekitarnya.” Dengan konsepsi semacam ini, maka ideologi tidak pernah mati. Sebab kita selalu mempunyai sistem nilai yang secara tak sadar akan kita gunakan untuk memahami dan merespon masalah yang datang.

Sebagai sistem nilai, ideologi bisa bersifat sangat personal dan tidak kelihatan secara publik. Ideologi itu hanya muncul ketika diperlukan, yakni saat kita sebagai individu menghadapi masalah yang harus dipahami atau direspon. Sifat tersembunyi sementara inilah yang barangkali mengakibatkan sistem nilai individual ini tidak tercermin dalam sikap politik partai-partai kita. Selain itu, proses politik di Indonesia telah menjadi serangkaian kompromi yang mau tidak mau menggerus sistem nilai para individu yang berada di dalamnya.

Karena sifatnya yang tersembunyi itu, kadang-kadang kita tidak menyadari apa sebenarnya sistem nilai yang kita miliki. Padahal menyadari sistem nilai yang kita miliki punya arti penting saat kita hendak menyalurkan aspirasi politik atau berpartisipasi dalam proses politik. Menyadari sistem nilai membuat kita sebagai individu menjadi ideologis lagi.

Dalam konteks “menjadi ideologis lagi” itulah saya menemukan aplikasi menarik bernama “Pancasila Interaktif” yang dikembangkan oleh Spektika. Dalam penjelasannya, “Pancasila Interaktif” dibuat untuk menemukan posisi politik kita secara cepat dan menarik. Saya pertama kali mengetahui aplikasi yang diluncurkan pada 6 Juni lalu ini saat membaca blog Eka Kurniawan. Saya lalu ikut-ikutan mencobanya. Ternyata memang cepat dan menarik meski hasilnya belum tentu menggambarkan sikap politik kita yang sebenarnya.

Untuk mengetahui nilai politik kita melalui aplikasi ini, kita akan diminta memilih sejumlah pernyataan. Tiap pernyataan mungkin mewakili sikap politik tertentu. Hasil dari jawaban kita itulah yang akan menentukan nilai politik kita. Setelah mencoba, ternyata nilai politik saya menurut aplikasi ini adalah Progresif Etis Moderat yang merupakan irisan antara nasionalisme radikal dengan sosialisme demokrat.

Lalu, apa itu Progresif Etis Moderat? Inilah definisinya menurut Spektika:

Sistem nilai ini merupakan bentuk yang moderat dari sistem nilai progresif etis. Dalam perspektif sistem nilai ini, negara mempunyai peranan yang lebih luas untuk mendorong terwujudnya keadilan sosial di masyarakat. Tugas etis negara bukan hanya menjamin agar setiap orang dapat mengeksploitasi kebebasannya seluas-luasnya tanpa saling merugikan satu sama lain.

Tapi lebih dari itu negara juga harus menyiapkan kondisi dimana agar setiap orang berada dalam kondisi yang minimum untuk dapat mengembangkan dirinya. Dengan kata lain, sistem nilai ini memberikan legitimasi moral bagi adanya intervensi negara untuk tujuan meningkatkan kualitas hidup rakyat melalui program-program sosial.

Sistem nilai ini juga menolak adanya campur tangan otoritas religius dalam wilayah publik. Agama dan negara merupakan dua domain yang berbeda dan tidak dapat dicampur adukan. Namun demikian, prinsip tolerasi dan penghargaan pada perbedaan keyakinan beragama tetap harus diutamakan.

*Sistem nilai ini mempunyai kecederungan kepada ideologi liberalisme sosial yang percaya bahwa prinsip kebebasan individual dapat disandingkan dengan konsep keadilan sosial. Dalam hal ini, peranan negara dalam urusan kesejahteraan rakyat dan pemerataan diperbesar melalui kebijakan seperti pajak progresif dan program sosial seperti asuransi kesehatan. *

Saya tidak yakin apakah definisi di atas benar-benar menggambarkan nilai politik saya. Tapi, saya kira, tidak terlalu jauh merepresentasikan nilai politik saya. Bagaimana dengan Anda? Tertarik mencoba dan menjadi ideologis lagi?

Jakarta, 29 Juni 2011

Haris Firdaus

ilustrasi diambil dari sini


Tag