Langsung ke isi
Kembali

Arsip · 2011

Filosofi Roti Dewi Lestari

Tiap kali membaca karya Dewi Lestari dan berjumpa dengan hubungan asmara yang begitu tulus dan murni, saya selalu punya bayangan nakal.

Tiap kali membaca karya Dewi Lestari dan berjumpa dengan hubungan asmara yang begitu tulus dan murni, saya selalu punya bayangan nakal. Bagaimana seandainya bukan Dee yang menulis kisah-kisah itu tapi penulis lain yang lebih urakan dalam soal cinta? Apakah hasilnya akan lain? Barangkali iya.

Seandainya Perahu Kertas ditulis Ayu Utami, misalnya, bisa jadi kita akan melihat Kugy dan Keenan—dua protagonis dalam novel itu—akan bercinta habis-habisan sepanjang waktu. Dalam versi Ayu Utami, Keenan mungkin akan melukis Kugy dalam pose telanjang yang menggoda dan Kugy akan memasukkan tokoh pelacur dalam dongengnya. Akan ada adegan bercinta yang penuh teriakan di kos-kosan Keenan yang sempit dan pengap itu atau hal-hal yang lebih liar dari itu.

Dan, akhirnya, kita tidak akan hanya melihat sepasang mahasiswa yang dilanda “cinta murni” nan tulus, tapi juga ledakan birahi yang berapi-api. Tapi, Perahu Kertas ditulis Dewi Lestari, seorang penyanyi romantis yang mendalami spiritualitas, ibu dari dua anak, dan sebagai penulis, Dee tampaknya selalu punya ketertarikan pada “cinta murni” tanpa birahi.

Saya sudah membaca semua buku Dee, dan itulah kesimpulan sementara saya. Sosok paling urakan dalam soal seks yang saya temukan dalam karya-karya Dee adalah Diva, seorang pelacur kelas atas yang tampaknya lebih pandai berbicara Marxisme ketimbang bercinta. Ada satu bagian dalam buku *Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh *yang sangat saya sukai, yakni ketika Diva sudah berhadap-hadapan dengan kliennya tapi justru bercerita perihal teori perjuangan kelas dengan fasih.

Adegan itu, bagi saya, sangat lucu. Alih-alih berkisah dengan detail soal persenggamaan, Dee memberi waktu panjang pada Diva untuk bermonolog soal obsesinya menulis paper ihwal Karl Marx. Akhirnya, bagian ini bahkan berakhir tanpa persetubuhan karena sang pria tua akademis yang menjadi klien Diva ternyata tak bisa membangunkan burungnya. Lucu sekali. Pelacur yang menggemari Marxisme? Ayu Utami pasti tidak akan menciptakan karakter semacam itu kan?

Dalam seri Supernova yang belum selesai itu, Dee memang menciptakan tokoh-tokoh pelacur dan pasangan homo, tapi jangan harap menemukan adegan seks dengan dosis yang sama dengan karya-karya beberapa penulis perempuan lain. Inilah Dee: penulis yang tampaknya masih percaya pada “formula lama” perihal cinta yang tulus. Jika kemunculan Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan Dinar Rahayu, misalnya, membuat kita berhadapan dengan konsepsi baru perihal hubungan percintaan, Dee membuat kita berbalik arah.

Kalau kita mengamati secara sekilas saja sejumlah karyanya yang berkisah soal cinta, kita sepenuhnya menjumpai formula klasik soal cinta: cinta yang tulus, bagaimanapun, akan mengalahkan segalanya. Tipikal paling baik dari formula ini tentu saja Perahu Kertas, sebuah novel krispi soal hubungan cinta dua mahasiswa yang berhasrat menjadi dirinya sendiri. Sangat klasik? Iya. Tapi, kekuatan Dee bukanlah pada “konsepsi baru” perihal cinta yang hendak ditawarkannya. Dee justru memukau karena dia berhasil membuat cerita bagus dengan formula yang sepenuhnya klasik.

Dalam Perahu Kertas dan sejumlah cerpennya yang terhimpun dalam Rectoverso, Dee sudah membuktikan hal itu. Kurang klasik apa sih kisah cinta Keenan-Kugy itu? Mari kita lihat tokoh protagonisnya. Seorang pelukis muda yang memilih melawan pilihan ayahnya dengan tetap melukis, dan seorang perempuan penulis dongeng yang berantakan penampilannya tapi berkepribadian luar biasa.

Mari membandingkannya dengan semua tokoh yang pernah diciptakan Ayu Utami—seorang pemanjat tebing yang bengal, seorang spiritualis berjari tangan dua belas, seorang pastur yang menolong gadis gila, dan lain-lain—dan kita akan melihat Keenan dan Kugy sebagai tokoh yang terlanjur tipikal dalam cerita cinta kebanyakan.

Namun, seringkali Dee juga memilih jalan lain. Dia akan berkisah tentang hal-hal yang sangat spesifik dan tidak semua orang tahu, dan tokoh-tokohnya adalah orang yang datang dari dunia spesifik itu. Inilah yang terjadi pada seri Supernova dan juga buku terbaru Dee yang dikasih judul Madre.


Selama sebulan belakangan, Madre telah menjadi perbincangan di Twitter—media sosial paling hip di Indonesia sekarang—terutama karena strategi promosi yang jitu dari Dee dan penerbitnya. Begitu banyak orang yang bahagia mendapat buku Madre dengan tanda tangan Dee dengan cara pre-order. Akan tetapi, dengan segala hormat, saya harus mengatakan bahwa Madre adalah buku Dee yang tergolong tidak saya sukai bersama dengan Filosofi Kopi.

Kenapa? Sebab, dua buku yang diklaim sebagai kumpulan cerita itu, tidak punya konsep kuat. Madre dan Filosofi Kopi tidak berisi cerita-cerita yang secara kualitas dan kuantitas seimbang bobotnya. Dalam dua kumpulan cerita itu, pasti selalu ada satu cerita yang mendominasi cerita yang lain. Dan dominasi itu terjadi dalam arti yang begitu nyata: satu cerita itu memakan halaman yang begitu banyak, sementara cerita lain hanya memakan dua atau tiga halaman.

Bagi saya, ini menyedihkan. Kenapa Dee mesti mengulang keputusannya mengumpulkan tulisan campur aduk dalam sebuah buku? Bukankah dia pernah menerbitkan Rectoverso, sebuah kumpulan cerita yang konsepnya sangat kuat?

Yang bikin saya tambah sedih, setelah membaca Madre, saya menjadi sangat yakin tidak semua tulisan dalam buku itu bahkan bisa disebut sebagai “cerita” yang utuh. Sebagian di antara isi buku itu, bagi saya, hanyalah semacam puisi dan curahan hati Dee. Dalam pembacaan saya, dari 13 tulisan dalam buku itu, hanya empat yang bisa dianggap sebagai sepenuhnya “cerita”, yakni “Madre”, “Have You Ever”, “Guruji”, dan “Menunggu Layang-layang”.

Yang mendominasi tentu saja adalah “Madre”. Sebagaimana saya bilang di atas, “Madre” ditulis Dee dengan menggunakan salah satu jurusnya yang paling tipikal: menulis dengan mengambil tema utama yang sangat spesifik dan tidak semua orang tahu. Tema utama “Madre” adalah soal roti. Garis besarnya: seorang pemuda bohemian tiba-tiba mendapat warisan sebuah adonan roti dari seorang Tionghoa yang tak dikenalnya. Tansen, laki-laki yang mendamba kebebasan itu, akhirnya harus terikat dengan adonan roti tersebut. Dia meninggalkan hidupnya yang serampangan di Bali dan memilih menetap di Jakarta demi membangun kembali toko roti “Tan de Bakker” yang secara tak terduga menjadi warisannya.

Kita menemukan begitu banyak detail perihal membuat roti dalam kisah “Madre” ini, tapi sebenarnya kita mengenali sebuah pola lama. Struktur cerita “Madre”, bisa dikatakan, benar-benar klasik. Cerita dimulai dengan sebuah kejutan yang mengganggu kehidupan Tansen. Dia ragu-ragu masuk ke dunia baru itu tapi akhirnya tak bisa mengelak. Namun setelah masuk, dia kembali ragu-ragu: apakah dunia baru itu harus mengubah hidupnya selamanya? Haruskah dia kembali pada hidup lamanya? Kita semua tahu jawabannya: Tansen tak akan kembali. Dia terikat dan menemukan kebahagiaan di dunia barunya itu.

Sampai di situ, masalah selesai. Dan Tansen akhirnya jatuh cinta dengan Mei, seorang perempuan cantik yang mewarisi toko roti super besar yang menjadi partner bisnisnya. Semua tantangan selesai dan kisah berakhir bahagia. Sangat Platonik dan tidak membekas panjang. Kita mungkin akan sangat menikmati membaca “Madre”, tapi kita bisa begitu saja melupakannya. Sebab, “Madre” tidak mengganggu kita dengan pertanyaan, tapi justru memperkuat harapan-harapan semu kita perihal cinta dan kehidupan.

Saya beranggapan, “Madre” sangat mirip dengan “Filosofi Kopi”: sama-sama bicara hal spesifik yang berkaitan dengan masak-memasak, sama-sama beralur simpel, dan tokoh utamanya menemukan kebahagiaan sejati di akhir kisah. Dari sisi buku, dua kumpulan kisah itu juga mirip: sama-sama mengumpulkan tulisan campur aduk menjadi satu sehingga terlalu sedikit yang bisa diharapkan dari dua buku tersebut.

Saking banyaknya kesamaan di antara keduanya, saya bahkan menganggap Madre harusnya diberi judul Filosofi Roti—sehingga menjadi semacam sekuel dari Filosofi Kopi. Okelah, saya mungkin pembaca yang kecewa. Tapi, setidaknya, saya tidak akan berhenti membaca Dee karena ini. Saya adalah salah satu pembaca fanatiknya dan tahun ini saya akan menagih buku lanjutan dari seri Supernova-nya. Semoga dia memenuhi janjinya.

Jakarta, 17 Juli 2011

Haris Firdaus

NB: baca juga wawancara imajiner saya dengan Dee di sini.


Tag