Hasrat merengkuh kesucian kadangkala bisa berbalik menjadi sebuah kebrutalan.
Salah satu adegan paling menyayat dari kisah klasik Ramayana adalah tatkala Begawan Wisrawa bertemu Dewi Sukesi di sebuah taman yang sepi, jauh dari keindahan dan hiruk pikuk manusia. Di taman yang cuma berhiaskan kembang kenanga itu, keduanya bertemu dengan hasrat untuk membuka tabir semesta. Saat tirai penutup rahasia itu tersibak, jagat akan goncang dan tepat pada saat itu manusia tak membutuhkan dewa-dewa lagi karena mereka telah jadi suci.
Sukesi adalah orang yang pertama kali berhasrat menyibak rahasia jagat. Pada suatu malam, putri jelita ini bermimpi ada di sebuah dunia yang tak mengenal malam maupun siang. Di sebuah alun-alun yang gemerlapan, dengan pelangi berupa seekor naga bersisik emas yang senantiasa menetes laksana hujan, Sukesi menerima sebuah ilmu tentang rahasia semesta yang disebut Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.
Tapi perempuan yang kecantikannya tiada tara ini tak mampu mengerti makna Sastra Jendra. Ia cuma merasa menerima anugerah tanpa mampu memahaminya. Hatinya gundah, dan akhirnya diambillah keputusan yang kelak akan disesalinya seumur hidup. Kepada ayahnya, Prabu Sumali, Sukesi menyatakan hanya akan menikah dengan orang yang bisa menjabarkan makna Sastra Jendra.
Sumali kaget bukan kepalang: kehendak anaknya adalah keinginan yang melawan dunia, sebuah niatan yang akan berakibat perubahan maha dahsyat untuk alam seisinya. Kepada Sukesi, Sumali menyatakan “bahaya”-nya menjabarkan makna Sastra Jendra: “Setahuku Nak, binatang akan berubah jadi manusia, dan manusia akan mulia seperti dewa, bila ada makhluk yang dapat mengupas Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Keseimbangan jagad raya akan goncang, Nak. Urungkanlah niatmu.”
Namun Sukesi bergeming. Keinginannya tetap tak bisa diubah. Pada saat itulah Begawan Wisrawa datang ke Alengka menemui Prabu Sumali. Kepada sahabatnya itu, Wisrawa menyatakan hendak melamar Sukesi untuk anaknya, Prabu Danareja. Sumali bingung. Pada satu sisi, ia tak enak hati dengan kehendak sahabatnya. Pada sisi lainnya, syarat yang diajukan Sukesi benar-benar di luar akal sehat. Tapi, tak pelak Sumali menyatakan juga permintaan Sukesi soal Sastra Jendra pada Wisrawa.
Pada mulanya, Wisrawa kaget dan terguncang—bukan karena ia tak memahami Sastra Jendra, tapi justru karena ia tahu risiko penjabaran ilmu itu bagi dunia. Dalam kebimbangannya itulah, ia teringat Danareja yang sudah tergila-gila pada Sukesi. Kasih sayangnya sebagai ayah muncul, dan disanggupilah permintaan Sukesi.
Lalu, adegan paling menyayat itu pun terjadi. Dalam novel yang merupakan tafsir atas Ramayana, Anak Bajang Menggiring Angin, Sindhunta melukiskan pertemuan itu dengan detail suasana yang menggetarkan dan penuh nuansa iba. Tatkala keduanya bertemu dengan penuh pengharapan untuk mencapai kesucian di taman sunyi berhiaskan kenanga, Wisrawa mulai menjabarkan “rahasia dunia” itu. Pada mulanya, semua kelihatan baik-baik saja: Wisrawa dengan cakap mewedar satu per satu rahasia itu seperti mengupas helai demi helai kulit buah-buahan. Sukesi mendengarkan dengan hikmat dan mulailah kebahagiaan merayapi dirinya. Sedikit demi sedikit rahasia kehidupan terhampar di hadapan Sukesi dan tubuhnya seolah melayang dalam alam kebahagiaan yang menyingkap begitu banyak rahasia.
Tatkala Wisrawa telah sampai pada akhir wejangannya—bahwa Sastra Jendra adalah “cinta dalam budi” dan jika Sukesi telah memahami cinta dalam budinya sendiri maka ia akan menjadi “ilahi”—pada saat itu pula dewa-dewa akan musnah karena manusia memang tak lagi membutuhkan mereka. Berbarengan dengan itu, alam berontak. Air laut mendidih, bumi gempa tujuh kali, dan panas tiba-tiba meruyak ke seluruh pelosok. Jagad raya berada dalam pintu perubahan yang maha dahsyat saat itu. Bumi akan segera berubah, keseimbangan yang selama ini menaunginya akan segera musnah.
Lalu Batara Guru, dewa para dewa, turun tangan untuk menggagalkan tercapainya pemahaman Sastra Jendra oleh Sukesi sebab belum saatnya jagad diguncang dengan demikian dahsyat. Ia turun ke dunia, lalu masuk ke dalam tubuh Sukesi dan mencoba menggoda nafsu Wisrawa. Tapi Wisrawa tak tergoda. Batara Guru kemudian ganti masuk ke tubuh Wisrawa dan balik menggoda Sukesi. Sukesi juga tak bisa ditenggelamkan nafsunya. Maka, tak ada jalan lain: keduanya harus dirasuki secara bersama-sama sehingga Batara Guru terpaksa memanggil Dewi Uma, istrinya. Uma diperintahkan merasuki Sukesi, sedangkan Batara Guru masuk ke dalam tubuh Wisrawa.
Pada saat kedua tubuh itu dirasuki, keteguhan pun runtuh. Nafsu keduanya tak tertahankan. Di taman yang sunyi dan dihiasi kenanga itu, Wisrawa dan Sukesi bercinta dengan amat liar. Nafsu mereka menggelora dan kesucian pun tanggal. Keilahian yang hendak dicapai tiba-tiba runtuh dengan seketika. Rahasia jagad kembali tersimpan, alam kembali menemu kenormalannya. Bumi diam, air laut tak lagi bergolak, hawa panas pun surut. Tepat saat dua manusia itu memadu cinta, alam telah menemu keseimbangannya kembali.
Sukesi dan Wisrawa tak pernah menjadi ilahi: mereka tetap manusia yang dipenuhi nafsu. Dan alam menyukai yang demikian. Keseimbangan dunia tercapai tatkala manusia tetap jadi makhluk yang tak sempurna, sehingga dewa-dewa tetap dibutuhkan.
Kisah Wisrawa dan Sukesi yang berhasrat mencapai kesucian namun terjerumus dalam lubang nafsu mereka sendiri seperti mengingatkan kita: kesucian dan keilahian akan selamanya menjadi harapan yang hendak terus kita jelang, namun tak pernah benar-benar kita capai. Kita tahu, setelah percintaan liar mereka, Sukesi dan Wisrawa melahirkan tiga putra: Rahwana, Kumbakarna, dan Sarpakenaka. Dari anak-anak inilah riwayat dunia yang muram dalam Ramayana dimulai.
Rahwana adalah perlambang nafsu dan angkara murka. Sarpakenaka, raksasa perempuan yang gemar laki-laki itu, adalah simbol nafsu birahi yang tak bisa dihentikan. Sementara itu, Kumbakarna adalah tanda akan penyesalan: ia raksasa yang buruk rupa sekaligus seorang yang bijak bestari.
Kesombongan dan nafsu berkuasa Rahwana itulah yang akhirnya mengguncangkan dunia, membuat petaka di mana-mana. Dan di sinilah tragik itu terjadi: Rahwana, raksasa penuh angkara murka itu, justru lahir dari sebuah kehendak paling suci dari orang tuanya untuk menjadi ilahi. Dengan kata lain, kisah itu memberi tahu kita: angkara murka justru bisa dilahirkan dari niatan manusia untuk menjadi suci, tak berdosa.
Dalam hal inilah Ramayana seolah menjadi cermin bagi wajah kita sendiri. Jika hari ini kita melihat begitu banyak manusia hendak mencapai Tuhan dengan jalan kekerasan, kita pun tahu: hasrat menjadi suci selalu punya risiko berubah jadi kebrutalan. Agama dan Tuhan, bisa menjadi sebuah kedok yang dengannya manusia merubuhkan sesamanya. Dan darah pun tumpah, untuk kehendak suci yang dipenuhi kesombongan.
Ya, kehendak menjadi suci adalah sebentuk kesombongan. Ketika Wisrawa menyebut hakikat Sastra Jendra adalah budi manusia, itu juga semacam kesombongan: sebab, sang begawan hendak mengatakan bahwa budi manusia sanggup membuatnya mencapai kesucian yang ilahi. Tapi Wisrawa salah. Rahasia Sastra Jendra justru terletak pada kerendahhatian manusia. Rasa rendah hati inilah yang menuntun manusia menjadi sosok yang mulia, meski barangkali tidak pernah suci.
Itulah kenapa, dalam Ramayana, bukan Ramawijaya—sosok manusia yang luhur dan titisan Batara Wisnu—yang berhasil mengalahkan Rahwana. Justru Anoman—kera putih, makhluk yang kadangkala dianggap hina oleh manusia itu—yang mampu membuat Rahwana tak berkutik. Bukan manusia—yang kadangkala dihinggapi kesombongan—yang berhasil menjadi penyelamat dunia, tapi seekor kera—sosok makhluk yang penuh kerendahhatian. Ini juga perlambang: dunia tak sentausa hanya dengan akal yang cerdas atau otot yang kekar, ia membutuhkan sebentuk kerendahhatian juga.
Sukoharjo, 14 Januari 2009 Haris Firdaus