Langsung ke isi
Kembali

Arsip · 2009

Misalkan Kita di Palestina

Di Palestina hari ini, adakah dinding-dinding yang tertebas peluru juga akan menjawab 'tidak' atas pertanyaan: 'Adakah celah masuk ke Palestina?'

Di Palestina hari ini, adakah dinding-dinding yang tertebas peluru juga akan menjawab “tidak” atas pertanyaan: “Adakah celah masuk ke Palestina?”

Sembari menonton sejumlah berita televisi tentang gempuran Israel ke Jalur Gaza, saya terus teringat sebiji puisi yang pernah digubah Goenawan Mohamad perihal kota yang dikoyak kekerasan. Puisi bertajuk “Misalkan Kita di Sarajevo” itu dimulai dengan bait-bait yang lusuh dan muram:

Misalkan kita di Sarajevo, mereka akan mengetuk/ dengan kanon sepucuk,/ dan bertanya, benarkah ke Sarajevo/ ada secelah pintu masuk.// Misalkan kita di Sarajevo: tembok itu,/ dengan luka-luka peluru/ akan bilang “tidak”,/ selepas galau.

Saya gemetar membaca dua bait awal ini: seolah sebuah tempat yang dikoyak kekerasan itu adalah sepetak ruang tertutup yang akan selamanya asing dan sendirian. “Secelah pintu masuk” yang diharapkan bisa membawa orang lain ke gelanggang itu, ternyata sama sekali tidak ada. Adakah memang demikian takdir dari kota yang dikoyak kekerasan—laiknya kota-kota di Jalur Gaza?

Dari media massa kita tahu, di Palestina rata-rata 50 orang meninggal tiap hari. Seperlima dari total manusia yang menemu ajal itu, adalah anak-anak. Ribuan orang terluka, dirawat di rumah sakit yang penuh sesak dengan dokter dan perawat yang kewalahan. Kita semua di Indonesia dan belahan lain bumi, bisa dengan mudah tahu bagaimana kondisi Palestina: berapa korban tiap hari, bagaimana persediaan obat, adakah upaya perundingan damai telah dimulai.

Dengan mudah pula, kita bisa menyaksikan potret-potret para korban dengan darah, bagian tubuh yang remuk, lengkap dengan isak tangis keluarga mereka. Beberapa waktu lalu, misalnya, saya menyaksikan seonggok tubuh bocah tak bernyawa—ia punya wajah tampan, dengan hidung mancung, kulit bersih, dan senyum polos yang tersisa dari kematian—sedang dibopong bapaknya yang tak berhenti menangis. Bapak anak itu meratap dalam Bahasa Arab yang tak saya mengerti. Tapi, saya tahu dengan pasti: kesedihan adalah bahasa paling universal yang tak disekat diksi, bunyi, atau tetek benget linguistik. Tanpa memahami bahasa mereka, kita tahu dan sanggup merasakan trenyuh: aura kesedihan adalah hawa yang akan segera menyebar kepada mereka yang masih dikaruniai perasaan kemanusiaan yang wajar.

Dunia selalu terasa dekat tatkala bencana terjadi. Bahkan sejak ratusan tahun lampau, hal ini tidak berubah. Ketika Gunung Krakatau “meledakkan dunia” pada 1883, misalnya, dunia tiba-tiba menyempit: peralatan telekomunikasi awal berupa telegraf mengangkut informasi ledakan itu ke mana-mana. Kantor Berita Reuters yang tengah merintis jalan perkembangannya juga menyebarkan berita itu ke pelosok-pelosok yang jauh. Beberapa waktu setelah ledakan itu terjadi, para pebisnis di Wallstreet dan Boston telah paham apa itu Krakatau, di mana tempatnya, dan apa saja kerugian yang timbul akibat ledakannya. Mereka yang ribuan kilometer dari Nusantara juga bisa tahu apa itu Jawa dan Sumatera..

Dalam klaim Simon Winchester, ledakan Krakatau adalah simptom pertama dari fenomena penyempitan dunia: pada kondisi itu, bumi menjadi—seperti yang dikatakan Marshal Mc Luhan—sebuah “global village”. ”Dunia yang seakan berjauhan sebelum Krakatau meledak kemudian menjadi sangat sempit setelahnya,” begitu kata Winchester.

Sejak Winchester mengeluarkan pernyataan itu, kita akan mafhum: dunia tak selalu menjadi sempit tapi akan segera terlihat dekat tatkala kesedihan terjadi. Dari tsunami di Aceh dan ribuan bencana lain, kita bisa memahami proposisi itu. Dan kini, ketika literan darah dan air mata tertumpah di Gaza, adakah hal yang sama terjadi? Barangkali iya, tapi bisa jadi pula tidak.

Pada satu sisi, kesedihan rakyat Palestina membuat nurani kita berontak, hati kita tergerak. Tak terhitung kecaman, makian, dan demonstrasi yang disertai pembakaran bendera telah dilangsungkan untuk mengecam Israel: agresor yang pada mulanya dulu berlindung di balik identitas sebagai korban Nazi, tapi sekarang melangsungkan kekerasan yang tak kalah biadab dengan apa yang dulu diperbuat pria berkumis kecil bernama Hitler. Bantuan berupa ragam juga telah menumpuk di beberapa titik. Sejumlah diplomat dan pemimpin negara siap-siap menuju meja runding untuk menghasilkan gencatan senjata.

Semua gerak itu—kecaman dan protes, bantuan dan diplomasi—adalah gerak yang mendekatkan kita dengan rakyat Palestina. Identitas mereka—dalam kategori negara, ras, atau agama—menjadi tidak lagi penting. Barangkali, “kemanusiaan” adalah satu-satunya penanda yang mengaitkan kita dengan mereka. Kita sedang menuju mereka, sebab “mereka adalah kita, kita adalah mereka”—untuk meminjam kata-kata Rachel Corrie, almarhumah pejuang kemanusiaan asal AS yang mati dilabrak buldoser Israel di Rafah, Palestina, 2003 lalu.

Namun, berbarengan dengan gerak menuju Palestina yang sedang bergemuruh dengan kuat itu, gerakan menutup Palestina dari akses dunia juga terus terjadi. Israel tak pernah membuka perbatasannya untuk mengizinkan bantuan maksimal hadir di Palestina. Sejumlah petugas PBB di Palestina bahkan tewas dalam huru-hara itu dan menyulitkan masuknya sejumlah petugas medis kita. Dan, sikap paling brengsek dari semua ini tetap dimiliki negara yang selalu merasa sebagai “adidaya”: Amerika Serikat, dan terutama presidennya yang baru saja dilempar sepatu itu: George Walker Bush. Di saat semua mata sedang menangis untuk Palestina, Bush justru meminta Hamas menghentikan serangan roketnya ke Israel—sebuah pernyataan yang membuat Bush pantas dilempar sepatu berkali-kali tepat di wajahnya.

Dengan dua gerak yang berlawanan itu, Palestina akan selalu terasa sebagai dekat sekaligus sulit direngkuh dengan erat. Kita mungkin merindukannya namun tak pernah benar-benar bisa mencapainya. Kesedihan yang kita lihat dari tabung televisi memang membuat kita seolah merasa dekat dengan anak-anak di Palestina, tapi itu cuma “seolah-olah” sebab selalu ada yang menghalangi mereka dan kita. Pada akhirnya, kita mungkin hanya bisa memprotes dengan keras, menumpuk bantuan, menyalurkan doa, tanpa hadir bersama-sama mereka. Tapi, semoga saja apa yang kemudian kita lakukan di sini dan sekarang, menjadi sesuatu yang membuat mereka tak merasa sendirian dan ditinggalkan.

Dengan semua itu kita bisa berharap, suatu saat nanti misalkan kita di Palestina, kita akan mendengar dinding-dinding di Palestina akan menjawab “iya” atas pertanyaan: “Adakah celah masuk ke Palestina?”

Sukoharjo, 7 Januari 2009 Haris Firdaus gambar diambil dari sini


Tag