Langsung ke isi
Kembali

Arsip · 2007

Yogya, Puisi, dan Lain Sebagainya (1)

Pagi itu, sekitar jam delapan kurang sepuluh menit, akhirnya saya tiba di Taman Budaya Yogyakarta (TBY).

Pagi itu, sekitar jam delapan kurang sepuluh menit, akhirnya saya tiba di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Lega, begitulah saya mengucap dalam hati. Setelah menempuh jarak Solo-Yogya sepanjang hampir 70 kilometer dengan sepeda motor, akhirnya saya bisa menemukan tempat itu. Tentu bukan suatu yang benar-benar istimewa sebenarnya, tapi tetap saja hal itu membersitkan sedikit kegembiraan.

Suasana di depan TBY masih sepi. Hanya ada beberapa lelaki yang agaknya biasa tidur di depan TBY. Sebagian mereka sudah bangun. Sebagian lain masih meringkuk di bawah sebuah pohon. Beberapa saat kemudian, saya lihat salah seorang dari mereka membeli nasi bungkus dan teh dalam wadah plastik. Kemudian, menggunakan tangan yang dilapisi plastik bening, ia mulai memakan nasi yang berlauk entah apa. Saya menggumam, “Oh, beginilah mereka hidup.”

Sambil menunggu kawan saya, saya duduk di depan TBY dan mengeluarkan sebuah buku: semacam jurnal yang diterbitkan oleh sebuah organisasi pergerakan mahasiswa di Solo. Saya baca satu tulisan yang sebenarnya ringan, namun justru dibuat rumit oleh gaya bahasa yang barangkali sengaja dibikin “indah” atau “ilmiah”. Jurnal itu mungkin bentuk kegagapan pada budaya tulis sebenarnya. Tapi, tak apa, toh segalanya selalu dimulai dengan kegagapan.

Lama saya menunggu kawan saya (yang dalam tulisan ini akan saya beri inisial “kaw”). Sebagian besar tulisan dalam jurnal tadi sudah saya sikat. Sebuah tulisan tentang perubahan sosial (duh “besarnya” frasa itu), sebuah tulisan tentang kader Muhammadiyah yang “subversif”, sebuah tulisan tentang kesalehan pribadi yang tak berkorelasi dengan kesalehan sosial, sudah saya habiskan. Cuma, kawan saya itu belum datang juga (kelak, ia mohon maaf kok atas kedatangannya yang lama).

Lalu saya mencoba memperhatikan sekeliling. Di samping TBY adalah kompleks toko buku yang terkenal di Yogya. Saya tak tahu nama resminya, tapi orang biasa menyebut dengan “Shoping”. Di median jalan di depan TBY, di mana terdapat kursi-kursi, beberapa orang bergerombol. Lelaki dan perempuan setengah tua. Belum mandi, berpakaian kusut, dan rambut yang belum disentuh ujung sisir. Mereka ngborol dengan topik yang entah, sambil sesekali mengambil biskuit dari kaleng yang ada di depan mereka, lalu mengunyahnya. Saya bayangkan biskuit cokelat itu masuk ke mulut mereka, bersentuhan dengan lidah mereka yang merah, dan dikremus oleh gigi-gigi kuning yang belum tersentuh sikat dan pasta gigi. Tapi, saya segera buyarkan bayangan itu.

Kaw belum juga datang. Saya memperhatikan sebuah spanduk yang terbentang di atas gerbang masuk TBY. Ada dua acara dalam satu spanduk. Pertama, diskusi menelusuri sejarah puisi di Yogya. Kedua, musikalisasi dan baca puisi. Yang pertama menghadirkan Cak Nun, Faruk HT, dan Suminto A Sayuti. Yang kedua, menghadirkan penyair yang jadi idola saya: Joko Pinurbo. Beserta Dina Oktavia (penyair muda ini juga menarik minat saya), Bakdi Soemanto, Abidah El Khaliqei, dan beberapa pengisi lain.

Yang pertama dilaksanakan hari itu (hari yang menjadi setting cerita ini), yang kedua esok malamnya. Saya hanya akan hadir pada acara pertama. Meski tahu bahwa sebenarnya sayang melewatkan Jokpin membaca “celana-celananya”, tapi apa boleh buat. Esok harinya, saya dibikin iri oleh sms dari kaw yang menyaksikan musikalisasi puisi itu. Katanya, Jokpin benar-benar hebat membaca “celana” miliknya. Tapi keirian saya reda setelah ia berkata dalam sms yang lebih kemudian: “Aku ngrekam Jokpin baca puisi. Kapan2 kita nonton.” Dan di rumah, sambil menonton film Van Helsing, saya berteriak tak terlalu keras: “Horeee!”


Pada awalnya, ruang seminar di TBY tak banyak didatangi orang. Cuma beberapa yang hadir. Saya dan kaw (yang akhirnya datang lalu mengucap: “Ah, jadi juga kamu ke Yogya!” sambil tertawa lebar) memilih duduk di kursi agak depan. Menanti acara restropeksi puisi itu dimulai. Pembukaan pun dilakukan. Oleh seorang perempuan berseragam batik. Mungkin dia PNS. Lalu, setelah sambutan, acara diskors, untuk mengambil minum dan makanan kecil.

Saya dan kaw sama-sama tersenyum: horee ada makanan! Setelah mengambil makanan kecil dengan porsi yang kata kaw seperti “anak kos”, saya kembali duduk di ruangan. Khidmat menanti acara mulai. Berturut-turut setelah itu, Cak Nun datang dan naik ke kursi pembicara. Indra Tranggono yang jadi moderator juga menyusul bersama Suminto A Sayuti. Faruk HT belum datang.

Lalu, diskusi dimulai dengan paparan dari Indra. Saya menyukai gaya bicara Indra yang tenang, mantap, namun berisi. Belakangan, saya tahu pria agak gemuk dan keriting ini ternyata pembawa acara budaya di Jogja TV. “Pantas saya merasa pernah melihat ia sebelumnya,” bisik saya pada kaw.

Diskusi mulai dari Cak Nun yang (seharusnya) berbicara soal kondisi perpuisian Yogya tahun 70-an tapi ngelantur sampai menyinggung polemik Taufik Ismail dan Hudan Hidayat. Cak Nun tentu saja tetap bicara soal wadah itu: Persada Study Klub (PSK), sebuah wadah kumpul-kumpul penyair yang melegenda di Yogya dan bahkan di Indonesia. Dari PSK, atas asuhan penyair Umbu Landu Pangranggi (saya tak tahu apa saya benar mengeja nama penyair ini), lahir nama-nama Emha Ainun Najib, Linus Suryadi, Iman Budi, dll. Kelak ketika Umbu pindah ke Bali, ia juga melahirkan Raudal Tanjung Banua yang pagi itu duduk di kursi paling depan dalam diskusi itu.

Saya tahu Cak Nun beromantisme dengan masa lalu. Apa yang saya kagumi dari Cak Nun adalah pendapatnya bahwa bersastra bukan sekedar aktivitas berkarya dan melakukan pencapaian estetis tertentu, tapi juga sebuah aktivitas yang penuh nilai kemanusiaan. Ya, di tahun 70-an, kata Cak Nun, para penyair di Yogya memiliki ikatan persaudaraan yang kuat. Mereka memang kadang berseteru dalam pendapat atau dalam hal lain (seperti rebutan pacar), tapi mereka tetap bersaudara. Ikatan mereka kuat karena rasa kemanusiaan yang besar.

Lalu, Cak Nun bercerita soal tudingan bahwa dirinya berselisih dengan Linus. Duh, saya lihat betapa sedihnya pimpinan Kiyai Kanjeng itu ketika menceritakan soal tudingan itu. Sebabnya, ia bukan hanya tak pernah berselisih dengan penulis “Pengakuan Pariyem” itu, tapi justru mereka sudah sangat karib bagai saudara. “Saat Linus sakit, sayalah yang disuruh Pak Kayam (Umar Kayam) untuk merawatnya,” kata Emha. Maka, “Tak usahlah ada Emha, tak usahlah ada Linus, yang penting ada kemanusiaan,” katanya lagi.

Saya terhenyak, dan terharu. Betapa kondisi sastra tahun 70-an di Yogya memang penuh hal-hal indah dan romantis, bukan hanya dalam karya-karya yang hadir, tapi juga dalam hubungan sosial antar penulisnya. Hari itu, para pembicara justru tak banyak bicara soal pencapaian estetis apa yang telah digapai para penyair Yogya tahun 70-an, tapi mereka bernostalgia dengan pengalaman masa lalu, tentang bagaimana hubungan antar sastrawan dibangun, tentang kelakuan masing-masing, dan tentang hal-hal personal yang begitu indah sehingga hampir-hampir tampak sebagai “mitos”.

Sukoharjo, 17 Agustus 2007 Haris Firdaus


Tag