Beberapa hari lalu, tepatnya Sabtu (31/3), saya diminta untuk membantu seorang kawan dari Yogya untuk membuat semacam video reporting untuk organisasinya yang bernama Green Map. Yang saya maksud dengan “membantu” di sini, tentu saja bukan dalam tataran teknis pembuatan video, namun saya hanya diminta untuk menemaninya berkeliling Solo untuk mengambil gambar di beberapa tempat.
Katanya, pengambilan gambar ini merupakan bagian dari program Green Map untuk membuat semacam laporan atau rekaman tentang tempat-tempat budaya yang unik di suatu daerah atau kota. Di Solo, mereka mengambil tiga “fenomena”. Pertama, kereta api jurusan Solo—Wonogiri yang rutenya melewati jalan-jalan yang membelah Kota Solo, seperti Jalan Slamet Riyadi. Kedua, rumah lowo: sebuah rumah tua di kawasan Purwosari yang dihuni oleh kalong (sebutan Jawa untuk anak kelelawar). Ketiga, radio komunitas yang ada di Pasar Klewer.
Konon katanya (lagi-lagi), tiga hal itu merupakan tiga hal unik yang hanya terdapat di Solo, kota tercinta ini (hayahh). Sebelumnya, kawan-kawan dari Green Map juga telah membuat video reporting di Kota Gede dan Wonosari.
Perjalanan dimulai dari rumah kawan saya bernama Azzah di daerah Kartasura. Setelah kenalan dan sempat ngobrol-ngobrol dikit kami berangkat ke lokasi pertama: Stasiun Purwosari di mana kereta api Solo—Wonogiri “mangkal” di sana. Kami beranagkat sudah jam 11 WIB, jadi kereta itu sudah berangkat. Yang dikejar oleh kawan-kawan saat itu memang hanya wawancara dengan petugas stasiun. Sedangkan pengambilan gambarnya akan dilakukan nanti sore, saat kereta api pulang dari Wonogiri.
Jumlah tim mereka 8 orang, saya sendiri mengajak seorang kawan untuk menemani saya. Sampai di Stasiun Purwosari, saya berhenti. Mereka yang wawancara di Stasiun Purwosari juga berhenti. Anggota tim yang akan ke rumah lowo juga berhenti. Tapi dua orang yang akan melipu radio komunitas Pasar Klewer ternyata tidak berhenti. Saya bingung. Saya pikir seharusnya mereka yang akan ke Pasar Klewer menunggu kami, karena mereka tidak paham rute jalan ke sana.
Tapi akhirnya kami mengantar tim yang ke rumah lowo dulu. Jumlah anggota timnya cuma dua orang. Sampai di rumah itu, kami pun mengetuk pintu dan memberi salam. Beberapa orang keluar. Mereka bukan penghuni rumah, cuma orang yang disuruh menjaga rumah itu. Ngobrol-ngobrol sebentar, akhirnya kami meluncur ke tempat pemilik rumah lowo. Ternyata si pemilik tidak ada. Kami pun balik ke rumah lowo. Setelah berdebat sana sini, akhirnya pengambilan gambar diperbolehkan meski hanya dari luar rumah.
Urusan di rumah lowo selesai, saya meluncur ke arah Slamet Riyadi. Mencari tim yang ke Pasar Klewer. Informasi dari tim di rumah lowo, tim Pasar Klewer akan menunggu di daerah Solo Grand Mall. Tapi tiba di sana, saya tak menemukan mereka. Usaha untuk menghubungi mereka lewat sms gagal. Sepertinya mereka tidak punya pulas (oalaaah). Akhirnya kawan yang bersama saya menghubungi HP Azzah. Tapi lama sekali tidak ada balasan. Akhirnya kami memutuskan untuk sholat dulu di Mushola Pom Bensin Slamet Riyadi.
Beberapa waktu kemudian, ada balasan sms dari Azzah. Ternyata tim kereta api dan tim Pasar Klewer sudah tiba di Pasar Klewer. Setelah ber-sms-an ria dengan Azzah, kami bernagkat ke Pasar Klewer. Tiba di kantor Radio Gapura (Radio komunitas Pasar Klewer), kami menemukan beberapa wajah yang kami kenal. Seorang sedang merekam penyiar yang sedang bercuap-cuap. Seorang yang lain mengambil gambar beberapa speaker di tempat itu. yang lain duduk-duduk. Beberapa waktu kemudian, tim rumah lowo datang.
Singkat cerita kami berpisah lagi. Tim kereta api harus ke Sangkrah untuk mengambil gambar kereta api yang pulang dari Wonogiri. Dua tim plus saya dan kawan, tetap di Radio Gapura menyelesaikan urusan. Urusan selesai, kami cari makan. Ternyata, urusan ini juga tidak cepat selesai. Beberapa tempat yang kami datangi ternyata kehabisan makanan. Ditambah lagi jalanan macet karena hari itu adalah puncak Sekaten di Solo. Solo yang biasanya jarang macet, hari itu terlanda kemcetan meski tak terlalu parah.
Singkat cerita (lagi-lagi), kami menemukan tempat makan. Makan sambil mengobrol dan bercanda dan tentu saja membayar (he he he). Setelah makan, kami kembali ke rumah lowo untuk mengambil gambar lowo yang sedang keluar dari rumah itu untuk mencari makan. Smpai di sana, hari masih terang (dan tentu saja kelelawar tidak keluar saat hari masih terang). Maka, kami pun “main” ke sebuah gedung tua bekas Supermarket Super Ekonomi (SE) yang pada Mei 1998 lalu terbakar.
Seumur hidup saya di Solo, ya baru kali itu saya menaiki SE pasca terbakar. Kondisinya mengerikan. Bau hangus masih terasa, padahal pembakaran itu terjadi hampir sembilan tahun lampau. Kengerian akibat tembok yang terkelupas dan menghitam masih tampak. Di lantai dua, kami bisa memandang langit secara langsung. Atap gedung itu entah hilang ke mana. Di lantai dua, kami ngobrol, mengambil gambar, menikmati pemandangan Purwosari dari sana. Sayang sekali, “monumen bersejarah” itu kabarnya akan segera diruntuhkan.
Selesai dari sana, saya pulang mendahului. Demikian, sebuah perjalanan telah selesai. Esok, sebuah perjalanan lain lekas dimulai.
Sukoharjo, 3 April 2007 Haris Firdaus