Langsung ke isi
Kembali

Arsip · 2007

Saut Kecil Bicara dengan Saya

Kalau Anda pernah bertemu Saut Situmorang, mendengar ia bicara, atau membaca esai-esainya, barangkali Anda akan beranggapan bahwa dia adalah seorang yang—meski intelektual—keras dan bahkan cenderu...

Kalau Anda pernah bertemu Saut Situmorang, mendengar ia bicara, atau membaca esai-esainya, barangkali Anda akan beranggapan bahwa dia adalah seorang yang—meski intelektual—keras dan bahkan cenderung kasar. Tubuhnya yang besar, rambutnya yang panjang disongket, serta suaranya yang besar, membuat “kesangaran” Saut makin lengkap. Anting-anting di kupingnya juga makin menambah kesan itu.

Saut Situmorang memang seorang sastrawan yang doyan berdebat dan melakukan provokasi. Bersama beberapa kawannya, ia mendirikan Jurnal Boemipoetra dan memimpin perlawanan terhadap Komunitas Utan Kayu-nya Goenawan Mohamad. Mungkin karena kegemarannya berdebat dan lalu “menghujat” lawannya itulah Saut menyebut dirinya sendiri sebagai “jerawat” dalam Sastra Indonesia.

Ketika bertemu Saut pada Pembukaan Rumah Sastra, Solo, beberapa waktu lalu, saya juga memperoleh kesan “sangar” itu. Meski dalam kondisi informal Saut adalah seorang yang suka bercanda, dan “pandai bernyanyi”, tapi “sangar” tetap jadi bagian yang integral dengan dirinya. Ketika ia mengisi diskusi dalam acara di Rumah Sastra, meski tak dengan berapi-api seperti biasanya, ia tetap menampakkan sikapnya yang “keras” dan alot. Ia tetap banyak menyerang sana-sini, dan tak sependapat dengan banyak hal.

Saya sudah beberapa kali melihat Saut bicara dalam diskusi dan sudah banyak membaca esainya. Maka, “kesangaran”-nya bukan “hal baru” bagi saya. Yang justru mengejutkan adalah melihat Saut membaca puisi. Dalam acara di Rumah Sastra kemarin, Saut memang membacakan beberapa puisinya di malam hari setelah sorenya ia menjadi pembicara diskusi. Diiringi petikan gitar, di tengah suasana malam yang agak hening, Saut membaca puisi-puisinya dengan ekspresi dan nada yang biasa saja, tapi bagi saya mampu menimbulkan suasana asyik.

Puisi-puisi Saut meruapkan bau kekhusuyukan sekaligus main-main. Ironi, kesedihan, kadang bercampur dengan segarnya kata-kata dan humor yang muncul dari diksi yang dipilih Saut. Kalau saya tak salah ingat, Saut membaca tiga puisinya. Satu puisi tentang cinta, satu puisi tentang persoalan sosial, dan satu puisi tentang Tuhan. Saya sudah hampir lupa semua puisi itu kecuali satu puisi berjudul “Saut Kecil Bicara dengan Tuhan”. Sebuah puisi tentang anak kecil yang bertanya-tanya tentang Tuhan dan pelbagai hal di sekelilingnya. Sialnya, saya belum punya buku puisi Saut yang judulnya sama dengan puisi itu. Jadi, beberapa hari kemudian saya harus mencari di internet versi lengkap puisi “Saut Kecil Bicara dengan Tuhan”.

Untunglah, saya akhirnya bisa menemukan puisi itu, membacanya kembali, dan tahu kenapa saya terpesona oleh pembacaan Saut atasnya dalam acara di Rumah Sastra. Secara tekstual, puisi itu memang cukup kuat. Maka, pembacaan Saut pun menjadi istimewa. Keistimewaan itu juga terutama-tama karena melihat Saut membaca puisi adalah melihat sisi lain penyair itu. Ya, Saut yang sangar saat berdiskusi atau menulis esai, ternyata tetap saja seorang penyair yang lembut dan penuh penghayatan ketika membaca puisi. Ya, Saut yang dijuluki “provokator” itu ternyata tetap punya “sisi lembut”. Sisi lembut itulah yang benar-benar saya temukan ketika ia membaca puisi.

Bagi saya, sangat berbeda melihat Saut bicara dalam diskusi dengan melihat Saut membaca puisi. Hal ini tentu saja berlainan dengan Afrizal Malna, misalnya. Afrizal, bagi saya, tak terlampau menampakkan perbedaan yang jauh ketika membaca puisi dan memberi uraian saat diskusi. Tetap saja “aneh” dalam pilihan katanya, begitulah Afrizal, baik ketika membaca puisinya—yang memang “aneh” secara diksi”—ataupun ketika menjadi pembicara diskusi.

F Rahardi pernah menyebut puisi “Saut Kecil Bicara dengan Tuhan” sebagai puisi yang “kekanak-kanakan”. Ia membandingkan puisi itu dengan puisi Sapardi Djoko Damono berjudul “Perahu Kertas”. Kesimpulan F Rahardi: “Perahu Kertas” lebih unggul karena puisi itu mampu mengambil jarak dari dunia anak-anak. Saya tak tahu apakah F Rahardi berkesimpulan sebaliknya: “Saut Kecil Bicara dengan Tuhan” tak mampu mengambil jarak dari dunia anak-anak. Yang jelas F Rahardi memang berkata bahwa secara umum Saut kurang melakukan eksplorasi terhadap hal-hal yang ia angkat dalam Kumpulan Puisi “Saut Kecil Bicara dengan Tuhan”.

Meski begitu, puisi Saut tadi tetap sesuatu yang istimewa buat saya. Barangkali, membayangkan ada anak kecil berkulit kuning langsat sedang menatap langit dan membayangkan di atas langit sana Tuhan sedang berpesta dan air cucian dari pesta itulah yang kemudian menjadi hujan, tetap saja bayangan yang menarik. Menikmati baris-baris puisi itu membuat saya ingat bahwa ada peluang lain yang bisa dieksplorasi dalam penulisan puisi.

Sebelum mengkhiri tulisan ini, saya kutip puisi “Saut Kecil Bicara dengan Tuhan” secara lengkap:

*bocah laki laki itu duduk sendiri di tanah kering di belakang rumah

diangkatnya wajahnya yang kuning langsat ke langit yang kebiru biruan

matanya yang hitam tak terpejam asyik mengikuti gumpalan gumpalan awan yang dihembus angin pelan pelan

dia tahu tuhan tinggal di situ di langit biru di balik awan awan itu karena begitulah kata Ibu tiap kali dia bertanya ingin tahu

bocah kecil itu masih terus memandangi langit biru matanya yang hitam masih terus tak terpejam

tapi dia tak mengerti kenapa kadang kadang turun hujan ke bumi membuat becek jalan di depan rumah membuat dia tak boleh main di luar rumah

kalau di atas ada langit apakah yang ada di bawah tanah ini bocah kecil itu bertanya tanya dalam hati

mungkin di bawah tanah ini sama seperti di atas sini, serunya dalam hati ada pohon ada rumah rumah ada tanah lapang di mana orang main layang layang dan tentu mereka mengira di atas sini tinggal tuhan mereka!

dia mulai tersenyum dia tahu sekarang kenapa kadang kadang turun hujan tentu saja hujan turun dari langit karena di atas sana tuhan sedang pesta dan air hujan itu tentu air yang dipakai mencuci piring gelas sehabis pesta sama seperti Ibu waktu cuci piring gelas dan airnya hilang masuk ke dalam tanah

senyumnya makin lebar sekarang dibayangkanNya anak anak mandi hujan di bawah sana!*

Saya tak tahu, apakah setelah membaca puisi ini Anda akan berpendapat bahwa puisi ini memang puisi anak-anak yang terjerat dalam dunia yang “kekanakan”. Tapi bagi saya, puisi ini tidak meruapkan aroma “kekanakan”. Membacanya, saya seperti merasa diajak berbincang tentang Tuhan oleh Saut kecil. Dan perbincangan itu, adalah perbincangan yang tak terlalu berat memang, tapi bukan berarti tak menimbulkan perenungan. Perbincangan itu, juga meruapkan humor yang menimbulkan senyum, sekaligus menimbulkan semacam “kepuasan” karena menemukan “kata-kata yang segar”.

Sukoharjo, 23 Nopember 2007 Haris Firdaus


Tag