Irasionalitas selalu hadir bahkan di masa orang bisa merekayasa manusia buatan secara rasional.
Teater irasionalitas dalam skala besar baru saja dipentaskan masyarakat kita. Berawal dari kisah ajaib seorang bocah asal Jombang yang mengaku menemukan sebuah batu di atas kepalanya beberapa saat setelah ia disambar petir, teater anti-nalar itu pun berkembang menjadi horor yang kadang menakutkan.
Kita menyaksikan ribuan orang berduyun datang dan antre dengan sabar ke rumah Muhammad Ponari, sang bocah usia 10 tahun yang diklaim menjadi dukun secara amat mendadak itu. Dari surat kabar cetak maupun online, kita tahu bahwa rentetan kendaraan yang menuju rumah sang dukun bahkan sudah sepanjang tiga kilometer. Para pasien yang datang dari penjuru Indonesia itu rela menunggu berjam-jam, atau bahkan dalam hitungan hari, hanya untuk menerima penyembuhan dari Ponari.
Dan, apa yang saya maksud sebagai “penyembuhan” itu, kita paham, hanyalah sebuah proses di mana sang bocah mencelupkan batu ajaibnya ke dalam gelas berisi air yang dibawa sendiri oleh para pesakitan itu—lucunya, sembari “menyembuhkan” pasien-pasiennya, Ponari masih sempat bermain games via handphone di tangannya.
Air yang telah dicelup batu berwarna kuning keemasan itulah yang diklaim menjadi obat mujarab bagi segala penyakit. Konon, pada mula batu itu ditemukan, Ponari telah menguji coba khasiatnya pada saudaranya yang sedang sakit. Dan, ini berdasar omongan yang belum diverifikasi, batu itu memang berkhasiat. Maka beredar luaslah kabar soal batu ajaib itu. Akibatnya kita kemudian paham: Ponari jadi fenomena yang kontroversial karena praktik pengobatannya itu telah menyebabkan empat nyawa melayang—kebanyakan korban kelelahan saat mengantre.
Setelah sempat dibuka-tutup beberapa kali, praktek pengobatan Ponari akhirnya benar-benar gulung tikar beberapa hari lampau. Di portal berita Detik.Com, sedang berlangsung diskusi hangat soal pro kontra penutupan pengobatan Ponari. Banyak yang mendukung penutupan itu, tapi tak sedikit yang mengeluhkan. Seandainya, praktek pengobatan itu tak “mengakibatkan” nyawa melayang, barangkali tak ada yang benar-benar perlu dikhawatirkan. Masalahnya, mereka yang mengantre ternyata kadang susah dikendalikan sehingga musibah jadi sesuatu yang tak terhindarkan.
Dalam sejarah peradaban kita, pola pikir dan praktek irasionalitas adalah kawan yang amat setia: ia hadir sejak amat lama dan terus bertahan hingga kini. Yang memeluknya bukan hanya orang-orang yang dalam anggapan awam kita sering disebut sebagai “tradisional”. Faktanya, mereka yang ada di negara paling maju dalam persoalan teknologi pun, kadang tak luput dari terkaman irasionalitas yang seringkali membuat terpingkal.
Salah satu praktek irasionalitas yang paling menggelikan adalah yang menimpa Ronald Reagan tatkala dia memimpin negara paling adidaya di dunia: Amerika Serikat. Dalam bukunya berjudul For the Records, Donald Regan, kepala staf Gedung Putih era Reagan, mengisahkan bagaimana irasionalitas itu memenuhi aktivitas sehari-hari sang presiden.
Menurut Donald, hampir setiap pergerakan dan keputusan besar yang diambil oleh Amerika Serikat semasa Reagan selalu dikonsultasikan dengan seorang perempuan yang “melihat horoskop untuk memastikan bahwa semua planet terletak di posisi yang menguntungkan untuk mendukung keberhasilan keputusan tersebut”. Perempuan yang disebut Donald itu, pastilah semacam peramal yang dianggap bisa menentukan mana “hari baik” dan mana “hari buruk”.
Orang utama yang berada di balik praktek konsultasi semacam ini adalah Nancy Reagan, sang ibu negara. Donald menyebut, Nancy memiliki kepercayaan yang amat besar terhadap paranormal asal California itu. Tiap kali ada agenda kegiatan atau keputusan, Nancy selalu menelepon sang paranormal, kemudian mengulang hasil konsultasinya pada Donald. Sebagai kepala staf Gedung Putih, Donald harus memerhatikan hasil konsultasi irasional ini untuk menyusun berbagai jadwal.
“Meski saya belum pernah bertemu muka dengan peramal itu, ia menjadi fakta yang demikian khusus bagi kerja-kerja saya, dan dalam urusan-urusan negara yang tertinggi,” demikian kata Donald. Bahkan, menurut Donald, ia menyimpan satu kalender yang diberi kode berwarna: hari “baik” dengan warna hijau, hari “buruk” dengan warna merah, dan hari “yang tidak jelas”. Kalender ini digunakan secara mutlak sebagai pegangan untuk menjadwalkan perjalanan Ronald Reagan. Kapan Reagan harus pidato juga disusun jadwalnya berdasar kalender berwarna ini. Bahkan negosiasi dengan pemerintah asing juga mesti diseleksi berdasarkan “kalender sakral” tersebut.
Saat Reagan berunding dengan Gorbachev, misalnya, sang peramal melalui astrologinyalah yang berperan menentukan jadwalnya. Rundingan keduanya berjalan baik meskipun pertemuan dua ibu negara adidaya itu tak berlangsung dengan amat mulus karena satu alasan: hari lahir Raisa Gorbachev, ibu negara Uni Soviet kala itu, ternyata tak diketahui oleh Nancy Reagan sehingga Nancy tak bisa berkonsultasi dengan peramalnya!
Kisah karikatural Reagan menjadi bukti bahwa presiden di negara paling maju sekalipun ternyata punya kemungkinan terhinggapi kepercayaan irasional. Jika seorang presiden yang memimpin negara dengan fasilitas lengkap dan prima saja bisa menjadi irasional, apalagi mereka yang ditimpa cobaan sakit plus ketiadaan biaya untuk berobat. Dengan tumpukan beban semacam ini, pola pikir yang anti-nalar kadang bisa “dimaklumi”.
Bagi banyak orang, Ponari barangkali menjadi semacam messiah yang membuat harapan mereka kembali timbul. Dengan kondisi seperti ini, tak heran banyak sekali manusia yang siap antre dengan ngotot demi air yang dicelupi batu ajaib itu. Meski barangkali kita tak pernah sepakat dengan mereka, agaknya tak adil juga jika mereka mesti dihakimi dengan “nilai-nilai” yang kita anut. Bagaimanapun, para pasien yang antre itu hanyalah orang-orang yang menuruti perasaan dan hendak menggapai harapan mereka kembali yang sudah hampir pupus.
Jadi, terima saja: teater irasionalitas skala besar itu memang milik masyarakat kita.
Sukoharjo, 12 Februari 2009 Haris Firdaus gambar diambil dari sini