Langsung ke isi
Kembali

Arsip · 2010

Penumpang Gelap

Mulanya, saat kereta api yang saya tumpangi malam itu berhenti, saya sama sekali tak curiga.

Mulanya, saat kereta api yang saya tumpangi malam itu berhenti, saya sama sekali tak curiga. Saya mengira ini hanya pemberhentian biasa, jeda yang biasa terjadi dalam sebuah perjalanan panjang kereta api. Saya ada di gerbong terakhir kereta. Di luar gelap. Tidak tampak bangunan apapun.

Beberapa saat kemudian, mulai tampak kasak-kusuk di antara para penumpang. Mereka yang berdiri di dekat pintu saling berbisik. Ada beberapa kecemasan yang muncul di wajah mereka. Saya maju ke arah mereka, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Ternyata, ada pemeriksaan khusus malam itu. Semua penumpang yang tak punya tiket akan kena. Ini jelas sebuah kejadian luar biasa.

Saya sedang berada di dalam kereta api Senja Utama jurusan Jakarta-Solo pada Kamis, 25 Februari lalu itu. Hari itu penumpang membludak karena besoknya tanggal merah. Para pekerja di Jakarta—termasuk saya—berniat pulang ke tempat asalnya. Tak semua kebagian tiket. Dalam kondisi yang demikian, tiket kereta memang sudah habis diborong jauh-jauh hari. Sebagian memilih membeli tiket berdiri—dengan harga sama dengan tiket reguler, Rp. 130.000. Sebagian lainnya nekad naik kereta tanpa tiket.

Dalam kondisi biasa, menjadi penumpang gelap kereta api bukanlah sebuah masalah besar. Menurut seorang kawan yang kerap naik kereta tanpa tiket, praktik membayar di atas kereta adalah hal yang sangat wajar. Untuk Senja Utama jurusan Jakarta-Solo, mereka yang tak punya tiket cukup membayar Rp. 30-60 ribu untuk bisa lolos dari pemeriksaan. Sekali lagi, ini sesuatu yang sangat normal. Saya yakin, Anda sekalian pun pernah mengenali praktik semacam ini.

Tapi malam itu, hal luar biasa benar-benar terjadi. Pemeriksaan dilakukan oleh Polisi Militer (PM). Ini gelagat buruk. Kawan saya memberitahu, kalau PM sudah ikut-ikutan memeriksa, tak akan ada yang lolos. Bahkan para anggota TNI dan Polri pun yang tak membawa tiket tak akan lolos.

Informasi kawan saya sahih. Sesudah beberapa lama kereta berhenti, ada pengumuman agar para “anggota” yang belum mempunyai tiket untuk turun dari kereta api dan membeli tiket. “Anggota” adalah kata ganti untuk para tentara dan polisi. Jika Anda cukup sering bepergian naik kereta api, Anda pasti tahu bahwa para “anggota” inilah yang memang sering menjadi penumpang gelap. Mereka punya jaringan kuat. Cukup berpotongan rambut pendek dan badan tegap, seseorang bisa dengan mudah mengaku sebagai “anggota” dan menikmati privelese tertentu.

Sebelum kereta api berhenti, saya melihat seorang “anggota” berkeliling dari gerbong ke gerbong menariki “iuran”. Dalam kondisi biasa, si pengepul ini juga akan menerima uang dari para penumpang gelap yang bukan “anggota”. Tapi malam itu, ia hanya mau menerima dari para “anggota” saja karena pemeriksaan sangat ketat. Ia mengaku tak bisa “menjamin” para penumpang gelap dari kalangan sipil.

Nyatanya, si pengepul itu akhirnya keok juga. Hanya beberapa menit sebelum pemberhentian itu—yang kemudian saya tahu lokasinya di Stasiun Cikampek—si pengepul kembali keliling gerbong. Ia mengembalikan “iuran” tadi sembari mengatakan, tak sanggup menjamin siapapun. Ini benar-benar kabar buruk.

Malam itu, para “anggota” yang tak bertiket akhirnya turun. Tak lama kemudian, muncul pengumuman lagi. Para penumpang non “anggota” juga disuruh turun membeli tiket dulu. Para “anggota” diminta membeli tiket seharga Rp. 104.000, sementara yang sipil dikenai harga normal, Rp. 130.000.

Suasana Stasiun Cikampek riuh rendah. Ada banyak petugas berseragam PT Kereta Api yang memegang lembaran-lembaran pengganti tiket. Mereka tampak senang dengan “operasi” malam itu. Tidak ada raut muka marah dari mereka. Semua melayani para penumpang gelap dengan ramah.

Seorang penumpang gelap yang sudah berpengalaman berkata pada saya, ini kali pertama ia mengalami operasi luar biasa semacam itu. Sebelumnya, ia selalu lolos.


Perjumpaan pertama saya dengan para penumpang gelap kereta api terjadi pada suatu malam saat saya sedang menunggu Senja Utama di Stasiun Pasar Senen, berbulan-bulan lampau. Saat itu, saya bertemu kawan kuliah saya yang juga akan pulang ke Solo. Bedanya, ia naik Kereta Progo.

Karena Progo berangkat satu jam lebih lambat ketimbang Senja Utama, kawan saya itu menemani saya menunggu di Jalur 3. Saat Senja Utama datang, saya naik. Kawan saya msih ada di sekeliling kereta. Tiba-tiba, ia muncul di depan jendela tempat duduk saya dan berkata bahwa ia ditawari ikut naik Senja Utama oleh seorang petugas PT KAI. Ia tinggal menyerahkan tiket Progo-nya dan menambah uang Rp. 50.000.

Saat itu Selasa, banyak tempat duduk Senja Utama yang kosong. Kawan saya itu dipastikan dapat tempat duduk. Ia bahkan mengajak saya pindah ke kursi yang dua-duanya kosong. Kami akhirnya dapat tempat di gerbong yang hampir terakhir. Ternyata, satu gerbong itu berisi banyak penumpang gelap. Seorang polisi KA ada di gerbong itu, memastikan mereka semua “aman”.

Saat petugas tiket mendatangi gerbong itu, sang polisi KA berdiri dengan sigap. Tiap kali petugas tiket mendatangi penumpang tanpa tiket, ia akan berkata ramah, “Ini PT KAI”. Saya tertawa dalam hati mendengar “sandi” itu—mengambil nama PT KAI untuk para penumpang gelap, bagi saya, sungguh menggelikan dan ironis.

Sepanjang perjalanan, saya dan kawan saya ngobrol banyak dengan sang polisi KA itu. Ia asli Solo. Praktik semacam itu adalah sesuatu yang biasa, katanya. Bisa dilakukan, asal kondisi kereta sedang tak penuh. Kami ngobrol macam-macam hal, mulai dari CPNS sampai urusan cewek. Kawan saya itu bahkan meminta nomor handphone sang petugas.

Sesudah perjalanan itu, saya berjumpa dengan banyak sekali penumpang gelap. Mereka biasanya membawa koran, sebagai alas tidur di bawah jika tak dapat tempat duduk. Selama berjumpa dengan mereka, saya merasa mereka tak banyak merugikan penumpang lain. Kebanyakan mereka baik dan ramah, tidak sombong. Mereka juga sumber informasi yang kaya mengenai seluk beluk perkeretapian karena umumnya mereka “penumpang senior”. :D

Jakarta, 6 Maret 2010 Haris Firdaus

gambar diambil dari sini


Tag