Langsung ke isi
Kembali

Arsip · 2009

Makan dan Makam

Sore itu, ketika Budhe B menelepon, saya sedang sendiri di rumah.

Sore itu, ketika Budhe B menelepon, saya sedang sendiri di rumah. Semua anggota keluarga saya sedang ke Magelang, menengok rumah kontrakan kakak saya.

“Wis krungu kabare Pak A?”

“Durung, Budhe.”

“Pak A wis ra ono.”

Saya tercekat mendengar penuturan budhe. Pak A adalah om saya, adik dari ibu—ia yang terakhir dari dua belas bersaudara anak kakek saya. Saya seharusnya memanggil dia dengan sebutan “om” atau “paklik”, tapi entah kenapa, sejak kecil, kami terbiasa memanggil dia dengan sebutan “pak”.

Keluarga saya jelas sangat dekat dengan Pak A—ia seorang pensiunan pekerja Freeport yang belakangan kemudian membuat usaha video shooting. Ia fotografer yang bagus. Di rumah saya, ada foto keluarga kami—bapak-ibu, saya, tiga kakak, dan seorang adik saya—hasil jepretan Pak A. Ada pula foto keluarga kami beserta keluarga Pak A.

Sesudah saya mendengar kabar kematian Pak A, saya menelepon kakak perempuan saya, mengabari ihwal itu. Mereka sedang dalam perjalanan, bahkan belum sempat sampai ke rumah yang hendak ditengok. Saya mendengar suara ibu dan saudara-saudara saya yang terkejut, diiringi ucapan Innalillahi. Saya diam saja.

Kematian Pak A adalah muara dari kisah yang cukup panjang dan sedih. Ia tak pergi dengan cara mengejutkan. Sebab-sebabnya jelas. Tapi itu sama sekali tak mengurangi kesedihan kami.

Pada mulanya adalah luka kecil. Sekira empat bulan lalu, Pak A menderita sebuah luka kecil di kakinya. Itu adalah luka yang benar-benar sepele bagi mereka yang sehat. Tapi bagi Pak A yang menderita diabetes, ceritanya jadi lain. Luka itu ternyata tak kunjung kering karena darah penderita penyakit gula memang jauh lebih susah membeku. Luka itu bahkan mulai berbau.

Ketika ibu saya berjumpa dengannya di sebuah kesempatan empat bulan lampau, Pak A terlihat kepayahan. Luka kecil itu mulai menampakkan akibat yang signifikan baginya. Kaki Pak A mulai mengeluarkan bau dan ia tak bisa berjalan dengan tegak seperti dahulu. Ini jelas tanda bahwa penyakit diabetesnya sudah ikut campur dalam luka kecil itu. Dua jarinya kelihatan berlubang karena lukanya tak mau menutup.

Beberapa waktu kemudian, ia masuk rumah sakit. Vonis dokter sungguh mengerikan. Dua jari yang berlubang itu mesti “dibersihkan”—ini istilah halus (atau istilah medis?) dari diamputasi. Ya, dua jari yang kini membusuk itu mesti dipotong supaya penyakitnya tak menyebar. Bagi saya yang awam, vonis ini sungguh terlihat menyakitkan. Kehilangan dua jari karena sebuah luka kecil?

Tapi kakak perempuan saya yang kuliah di fakultas kedokteran mengatakan itu solusi yang memang biasa dilakukan bagi para penderita diabetes yang telah akut. Kakak saya sempat menyarankan Pak A meminum ramuan China yang bisa mengeringkan luka semacam itu. Rasa obat tradisi itu tak enak. Pesing, katanya. Pak A tak mau meminumnya, sementara anaknya terlanjur menandatangani “operasi pembersihan” itu. Pak A diamputasi dua jarinya beberapa waktu kemudian—setelah sempat ragu-ragu, keluarga akhirnya menuruti saran dokter.

Orang-orang awam, semacam saya, akan merasa masalah Pak A sudah beres. Dua jari busuk telah dipotong—itu berarti tak akan ada lagi penularan penyakit bukan? Ternyata bukan. Entah bagaimana prosesnya, penyakit Pak A akibat luka kecilnya dulu masih terus berlanjut. Tiba-tiba, ia masuk rumah sakit kembali. Dan kini semuanya terlihat makin mengerikan. Pembusukan itu ternyata masih berlanjut ke bagian tubuh lainnya dan sekarang telah hampir mencapai lutut. Amputasi harus kembali dilakukan, tepat sampai bagian di bawah lutut.

Saya hampir tak percaya mendengar itu dan lagi-lagi protes: “Kalau memang amputasi yang pertama itu tak menyelesaikan masalah, kenapa mesti dilakukan?” Lagi-lagi, saya tak mendapat jawaban yang pasti. Pak A, setelah sempat keluar-masuk sejumlah rumah sakit, akhirnya kembali dioperasi.

Setelah operasi, semuanya justru makin buruk. Pak A berada dalam kondisi kritis. Sebelum operasi, saya sempat menengok dia di sebuah rumah sakit di Sukoharjo. Ia sudah tak lagi normal dalam berkomunikasi. Kata-katanya sering meracau, pendengarannya berkurang sangat banyak, dan pikirannya seperti orang linglung. Waktu itu, ia sudah kehilangan dua jari kaki—dan itu menimbulkan dampak psikologis tak sedikit. Sesudah operasi, kondisinya bisa dikatakan kritis. Sempat keluar dari rumah sakit beberapa hari, ia akhirnya opname lagi. Sejumlah keluarga bahkan telah pasrah. Yang lain malah sudah membicarakan skenario pemakaman.

Dan pada sore ketika saya sendirian di rumah itu, Pak A meninggal. Kepergiannya tampak sebagai konsekuensi logis dari sakitnya yang parah. Tapi bila direnungkan kembali, saya seolah tak percaya bahwa semuanya dimulai dari sebuah luka kecil yang bahkan disepelekan oleh hampir tiap orang. Soalnya adalah diabetes. Penyakit itu membuat pembekuan darah jadi sulit dan luka ringan akan menyebabkan bencana dahsyat yang tak mungkin dibayangkan.

Diabetes, tentu saja, adalah penyakit turunan. Setahu saya, penyakit itu tak bisa disembuhkan total. Cuma bisa dikontrol dengan menjaga pola makan dan olahraga. Pak A tak bisa melakukan keduanya. Ia orang yang suka makan enak—tidak memberi pantangan terhadap makanan mengandung gula—dan setahu saya, ia jarang olahraga. Itu kenapa kadar gulanya, saat ia pertama kali melakukan cek, bisa sampai angka jauh di atas ambang batas.

Diabetes mungkin penyakit yang kejam tapi sama sekali tak melumpuhkan jika penderitanya bisa displin. Tapi siapa yang bisa disiplin soal makanan? Tak semua orang tentu. Mungkin itu yang menyebabkan  kata “makan” dan “makam” hanya berselisih satu huruf. Ternyata, keduanya begitu dekat.

Sukoharjo, 7 November 2009

Haris Firdaus

ps: gambar diambil dari sini


Tag