Langsung ke isi
Kembali

Arsip · 2007

Hal-hal Sepele yang Membawa Serta Bahagia

Dalam hidup yang serba hiruk-pikuk, kebahagiaan bisa jadi ditemukan dalam hal-hal sepele yang kita anggap remeh.

Dalam hidup yang serba hiruk-pikuk, kebahagiaan bisa jadi ditemukan dalam hal-hal sepele yang kita anggap remeh. Saya membaca tentang itu di salah satu blog kesukaan saya beberapa hari lalu. Dari sana saya tahu: hal-hal kecil yang remeh-temeh ternyata selalu menyimpan sesuatu yang barangkali tak kita bayangkan. Terkadang, kita sendiri pun sampai tak paham kenapa hal-hal sepele yang telah kita lalui ternyata mampu membawa semacam bahagia.

Saya menyadari hal itu sepenuhnya setelah mengalami beberapa obrolan, dan pertemuan dengan beberapa teman. Pertemuan pertama, di suatu petang ketika saya dan beberapa kawan se-angkatan menjenguk seorang kawan yang sedang sakit di rumahnya. Di rumah kawan saya itu, kami tak hanya menjenguk, tapi juga ngobrol, bercanda, dan merencanakan beberapa hal. Obrolan mengalir ditemani minuman mineral berukuran gelas dengan merek tak terkenal, serta roti sederhana yang sudah terlalu banyak kami konsumsi.

Kenyataannya, petang itu saya merasa bahagia. Meski untuk sampai ke rumah kawan saya itu kami harus berhujan-hujan dulu, dan sempat tersesat beberapa kali, toh kehadiran saya di sana seolah mendapat imbalan yang pantas. Ditemani suara hujan, dan hawa petang yang dingin, kami bercanda tentang banyak hal, bicara tentang beberapa tugas kuliah yang akhir-akhir ini menggila, bicara tentang dosen-dosen kami yang tak terlampau istimewa, dan banyak lagi.

Kami tak bicara hal-hal besar. Sungguh, forum kami saat itu adalah sebuah forum tanpa rencana, yang entah kenapa bisa berjalan dengan begitu hangat, semarak, dan membawa semacam semangat baru. Mungkin karena kami—meski se-angkatan dan hampir tiap hari bertemu di kampus—sudah jarang bertemu dalam forum yang begitu santai, tanpa beban tugas kuliah, atau perencanaan tentang program-program bersama. Maka, akhirnya sambil mengunyah roti, dan sesekali meminum air mineral kemasan, kami ngobrol sampai hampir lupa waktu dan baru tersadar ketika adzan Maghrib berkumandang.

Kami sholat, dan kemudian pamit pulang. Pertemuan singkat yang sepele, tapi membawa semacam bahagia. Sebab, bagaimanapun di tengah himpitan tugas kuliah yang begitu banyak, dan tugas organisasi yang juga terus mengalir hampir tanpa jeda, pertemuan singkat yang remeh-temeh seperti tadi akan membawa sebuah kelegaan. Pertemuan macam itu, barangkali, adalah semacam jeda. Semacam pemberhentian di tengah kesibukan dan waktu yang berjalan dengan cepat.

Perasaan berhenti sejenak dan terbebas dari tugas itulah yang juga saya rasakan ketika di sebuah malam yang hujan, saya dan seorang kawan ngobrol di sebuah warung pinggir jalan. Sambil memakan nasi liwet, dan minum teh panas, kami ngobrol tentang banyak hal: kuliah, organisasi, masa depan, dan sebagainya. Kadang saya melihat kendaraan-kendaraan pribadi yang lalu-lalang di depan kami. Lampu sorot mereka yang menyala di malam yang temaram membuat kehadiran kendaraan-kendaraan itu tampak mencolok. Mereka berjalan dengan cepat, dan tiba-tiba saya merasa berhenti pada satu titik.

Saat itu, saya merasa benar-benar berhenti. Ketika melihat lalu-lalang yang menjauh dari hadapan kami dengan begitu cepatnya, saya tiba-tiba merasa menjadi orang yang begitu lambat, dan bahkan hampir tak bergerak. Saya sempat termangu sejenak, dan kemudian menyadari: begitu banyak hal berlalu di hadapan kita, dan terkadang kita hanya bisa berhenti memandangnya dari kejauhan. Terkadang, manusia tak berhasrat pada apapun kecuali pada hal sepele: istirahat, duduk santai di warung, ngobrol ngalor-ngidul dengan kawan, atau hal-hal tak produktif lainnya.

Akhirnya, saya paham: manusia membutuhkan hal-hal sepele itu, sama ketika manusia merasa harus bekerja se-produktif mungkin untuk mengejar hal-hal yang ia anggap besar dan berguna dalam hidupnya. Mendapati diri kita bersama hal-hal sepele, memang mendapati waktu yang berlari menjauh, tanpa usaha apapun dari kita buat mengejar. Dalam kondisi demikian, produktivitas tentu tak masuk hitungan. Tapi begitulah: manusia adalah entitas yang tak selamanya bisa tegang, dan konsentrasi pada satu hal. Ia sesekali membutuhkan pelampiasan yang agak gila, atau membutuhkan istirahat yang benar-benar memberinya waktu untuk berhenti sejenak, dan tak memikirkan apapun.

Saya barangkali menyadari hal itu karena pertemuan-pertemuan dengan kawan-kawan saya tadi. Betapa dalam pertemuan yang demikian kita sebenarnya mendapati diri sebagai orang yang jauh lebih rileks. Di tengah hujan malam-malam, saya dapati sebuah kelegaan ketika ngobrol dengan seorang kawan. Saya dapati rona bahagia di wajahnya pula. Dalam kondisi demikian, saya sebagai manusia merasa hasrat mengejar hal-hal produktif adalah sesuatu yang kadang juga harus ditinggalkan dan tak dipikirkan sama sekali.

Bagaimanapun, manusia memang kadang menemukan kebahagiaan bukan dari hal-hal besar, tapi dari hal-hal sepele yang boleh jadi merupakan rutin keseharian kita. Saya beruntung sudah membuktikan hal itu. Saya berharap, Anda sekalian membuktikan hal itu juga.

Sukoharjo, 5 Desember 2007 Haris Firdaus


Tag