Langsung ke isi
Kembali

Arsip · 2009

Berwisata di Rumah Tuhan

Sakralitas masjid sebagai ruang sosial ternyata tidak pernah statis dan universal.

Sakralitas masjid sebagai ruang sosial ternyata tidak pernah statis dan universal. Selalu ada ruang negosiasi dalam hubungan manusia dengan rumah Tuhan itu.

Malam itu, sekitar pukul delapan malam, saya duduk di pelataran utama Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang. Suasana di sana masih ramai. Kebanyakan orang memilih berkumpul di pelataran utama bagian atas, dekat dengan enam payung elektrik yang menjadi salah satu karakteristik paling unik dari masjid ini.

Sementara seorang kawan saya memotret di keremangan malam, saya memilih duduk santai, melemaskan badan. Beberapa meter di dekat saya, ada seorang lelaki dan perempuan yang sama-sama masih muda sedang khusyuk berbincang. Saya menguping obrolan mereka yang berkisar tentang hubungan asmara keduanya yang baru berjalan beberapa bulan.

“Mbiyen, bar kowe nembak aku kae, aku nangis,” begitu kata-kata sang perempuan yang masih saya ingat sampai sekarang. Saya tersenyum mendengar kata-kata mesra yang tak dibuat-buat ini. Si lelaki menyambut kata-kata sang perempuan dengan kalimat tanya pendek: “Lha ngopo?” Si perempuan menjawab dengan intonasi yang sedikit malu-malu: “Yo rapopo”. Kali ini, saya benar-benar tersenyum lebar. Dalam hati, saya bilang: “Oh, so sweet.”

Angin malam itu berhembus sedikit kencang dan membuat saya yakin sedang tidak bermimpi atau menonton sinetron. Saya benar-benar sedang ada di Masjid Agung Jawa Tengah, sebuah masjid yang konon kemegahannya tak tertandingi di seantero Asia Tenggara. Ya, sekali lagi, saya sedang ada di Masjid Agung Jawa Tengah, dan di dekat saya sepasang pemuda asyik berpacaran dengan kepolosan yang sama sekali tidak dibuat-buat. Keduanya sama sekali tidak merasa rikuh dengan kenyataan bahwa mereka sedang berpacaran di rumah Tuhan—tepatnya, di pelataran rumah Tuhan.

Saya tidak sedang dan akan menyalahkan pasangan itu. Bagaimanapun, saya bukan seorang hakim moral yang gemar mengkategorikan “mana benar” dan “mana salah”. Saya hanya ingin menunjukkan, di Indonesia, masjid bukanlah sebuah ruang yang selalu “angker” dan “steril”. Masjid-masjid besar di Indonesia yang umumnya juga merupakan tempat pariwisata, adalah sebuah ruang di mana banyak kepentingan bercampur aduk. Kita tak akan pernah bisa membatasi hanya kepentingan religius sajalah yang boleh memasuki masjid-masjid tersebut.

Di masjid-masjid semacam Masjid Agung Jawa Tengah, kepentingan untuk menghadap Tuhan selalu bertemu dengan kepentingan untuk mengagumi keindahan arsitektural, menikmati pemandangan alam, atau bermesraan dengan pacar. Itulah kenapa, di “masjid-masjid wisata” tersebut, akan selalu tersedia fasilitas lain yang tak akan kita temui di masjid-masjid kampung yang tak pernah menjadi tempat pariwisata. Fasilitas yang saya maksud itu, misalnya saja, toko oleh-oleh, objek wisata lain di sekitar masjid, atau sarana rekreasi lain seperti kereta kelinci dalam kasus Masjid Agung Jawa Tengah.

Jika Anda mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah pada pagi sampai sore hari, maka Anda akan melihat deretan bus yang terparkir, kereta kelinci yang lalu-lalang, orang-orang yang antre ingin naik ke menara masjid, dan rombongan-rombongan manusia yang berjalan hilir mudik ke seluruh penjuru kompleks masjid. Jumlah mereka yang berjalan-jalan ini, hampir bisa dipastikan jauh lebih banyak dibandingkan kuantitas mereka yang mengikuti sholat berjamaah.

Malam itu saya tak hanya bertemu dengan satu pasangan yang sedang berpacaran. Beberapa meter dari tempat saya duduk, ada serombongan gadis muda yang duduk membentuk lingkaran sambil ngobrol-ngobrol tak jelas dan tertawa-tawa. Salah seorang di antara mereka sedang asyik mengetik di laptop. Hampir semua gadis muda ini memakai kaos oblong ketat dan celana pendek yang tak kalah ketatnya. Ekspresi wajah mereka santai, bahagia, dan genit.

Tentu saja kita bisa menemui rombongan perempuan muda semacam itu di mall, kedai kopi, kafe, atau diskotik. Tapi berjumpa dengan mereka di masjid adalah sebuah kejutan tersendiri. Gaya berpakaian mereka yang sama sekali berbeda dengan istiadat penampilan orang-orang yang ke masjid menunjukkan bahwa “masjid-masjid wisata” adalah sebuah ruang dengan tafsir dan norma yang kian terbuka. Masjid-masjid semacam itu tidak lagi ditafsirkan sebagai ruang yang harus diisi dengan kealiman semata-mata. Kehadiran orang-orang dengan pakaian yang tak menutup aurat ke tempat itu makin menegaskan bahwa kepentingan yang ada di “masjid-masjid wisata” bukan sekadar kepentingan religius. Bagi gadis-gadis muda yang saya temui malam itu, Masjid Agung Jawa Tengah barangkali sama artinya dengan kafe atau mall yang sering mereka gunakan untuk nongkrong dan ketawa-ketiwi.

Di kampung saya, masjid adalah ruang yang terus berusaha dipertahankan menjadi sebuah ruang yang sakral. Anak-anak kecil yang bermain di masjid selalu dimarahi, diusir, kadang-kadang ada ustadz yang sampai perlu mengutip ayat-ayat kitab suci sebagai dasar menghardik anak-anak itu. Para pemuda kampung yang seringkali nongkrong lama-lama di masjid sampai malam, mengobrol tak jelas dan kadang diselingi tawa agak keras, juga dihardik dan diminta pergi. Di kampung saya, masjid bukanlah tempat nongkrong. Di masjid-masjid lainnya, kita juga bisa menemui sejumlah hardikan halus untuk mempertahankan sakralitas ruang masjid. Tulisan-tulisan seperti “Dilarang Tidur di Masjid” atau “Dilarang Berkhalwat” adalah bagian dari upaya semacam itu.

Tapi, seperti telah saya katakan sejak awal, sakralitas masjid tidak pernah benar-benar menjadi universal. Tiap-tiap tempat atau daerah memiliki etika dan norma tersendiri dalam memperlakukan masjid. Selalu ada tafsir yang terbuka, selalu ada negosiasi yang mungkin. Sebab, bagaimanapun, agama dan kepercayaan pada Tuhan memang selalu membuka ruang tafsir yang berbeda. Pada akhirnya, masjid juga sebuah ruang yang dimasuki pengaruh kebudayaan manusia yang tak selalu suci.

Sukoharjo, 5 Mei 2009 Haris Firdaus

gambar diambil dari sini


Tag