Langsung ke isi
Kembali

Arsip · 2008

Aku Selalu Menyukai Suasana Stasiun

'Aku selalu menyukai suasana stasiun,' katamu saat di sebuah sore menjelang petang kita duduk di bangku di Stasiun Tugu, Yogayakarta.

“Aku selalu menyukai suasana stasiun,” katamu saat di sebuah sore menjelang petang kita duduk di bangku di Stasiun Tugu, Yogayakarta. Tapi kau tak pernah menjelaskan pada saya: suasana stasiun seperti apa yang kau sukai itu. Saat itu, hujan turun deras, sebagian tubuh kita basah karenanya, dan kita sedang menanti kereta buat pulang setelah melakukan perjalanan yang menguras keringat.

Stasiun adalah sebuah tempat yang berkait erat dengan interaksi sosial: di sana kita bertemu dengan orang-orang asing yang datang dan hendak pergi ke tempat yang tak kita tahu, tapi sekaligus di sana, terkadang, kita melepas orang-orang yang kita cintai buat pergi, untuk sementara, atau untuk selamanya.

Stasiun adalah sebuah tempat transisi, barangkali. Di sana kita cuma ada buat menuju tempat lain. Di stasiun, kita selalu datang dengan sebuah perencanaan yang ganjil: kita datang ke tempat itu justru untuk pergi ke tempat lain.

Stasiun juga tempat bersatu padunya dua kontradiksi: keasingan sekaligus kenangan. Keasingan datang menyergap kita ketika kita bertemu orang-orang dengan banyak latar sosial dan budaya, dan sama sekali asing buat kita. Tapi stasiun juga menambatkan sebuah kenangan tersendiri: ia mengingatkan kita pada kampung asal yang intim, atau justru memprovokasi kita pada tempat-tempat yang jauh.

Keasingan, sekaligus keintiman itu mengingatkan saya pada puisi Sapardi Djoko Damono:

“Siapakah namamu?” Barangkali aku setengah tertidur waktu kau tanyakan itu lagi. Bangku-bangku yang separo kosong, beberapa wajah yang seperti mata tombak, dan dari jendela: siluet di atas dasar hitam. Aku tak pernah menjawabmu, bahkan ketika kau tanyakan jam berapa saat kematianku, sebab kau toh tak pernah ada tatkala aku sepenuhnya terjaga.

Bukan kebetulan kalau puisi yang baris pertamanya saya kutip penuh di atas berjudul “Dalam Kereta Bawah Tanah, Chicago”. Kereta, sebagai sambungan dari stasiun, memang juga mendedahkan suasana yang kontradiktis itu: keasingan dan keintiman.

Lihat, bagaimana Sapardi melukis keduanya dengan sangat baik: pertanyaan yang berbisik tentang nama dan kematian adalah simbol keintiman. Tapi hal-hal lain dalam baris di atas sepenuhnya menandaskan keasingan: bangku-bangku yang separo kosong, beberapa wajah yang seperti mata tombak, dan siluet di atas dasar hitam yang dilihat dari jendela. Dua narasi tentang keintiman dan percakapan yang dekat dipadupadankan dengan keasingan dari benda-benda sekeliling yang tak akrab dengan “si aku lirik”.

Keasingan dan keintiman itu, seperti tarik-menarik. Dan akhirnya kita tahu: keasingan yang menang karena si penanya tadi ternyata “tak pernah ada tatkala aku sepenuhnya terjaga.” Artinya, pertanyaan tadi, ternyata semacam “bisikan gaib”, semacam ilusi, atau timbul karena kenangan. Di sebuah kereta bawah tanah di negeri yang jauh, “aku lirik” akhirnya menyadari bahwa ia hanya menemui keasingan. Keintiman yang ia rasakan, cuma sebuah perasaan gaib yang tak nyata.

Baiklah, hari ini kita namakan saja ia ketakutan, atau apa sajalah. Di saat lain barangkali ia menjadi milik seorang pahlawan, atau seorang budak, atau pak guru yang mengajar anak-anak bernyanyi—tetapi manakah yang lebih deras denyuntnya, jantung manusia atau arloji (yang biasa menghitung nafas kita), ketika seorang membayangkan sepucuk pistol teracu ke arahnya? Atau tak usah saja kita namakan apa-apa; kau pun sibuk mengulang-ulang pertanyaan yang itu-itu juga, sementara aku hanya separo terjaga.

Kalau tadi dialog hanya berjalan satu arah, kini “aku lirik” telah ikut nimbrung dalam obrolan itu. Ia memang hanya menggumam, melafalkan semacam senandika, tapi soliluqui tadi pun sebenarnya adalah sebuah “tanggapan”, sebuah balas dari percakapan. Meski ia tentu melantur, bicara dengan sedikit panjang, tapi senandika yang digumamkan “aku lirik” adalah penanda keintiman yang makin jauh. Tapi lagi-lagi di akhir, senandika itu terputus, dan keasingan seperti kembali meruyak karena kesadaran si “aku lirik” ternyata hanya “separo”.

Keasingan dan keintiman, itukah yang membuatmu menyukai suasana stasiun? Saya tak tahu. Tapi saya juga menyukai suasana stasiun, dengan satu catatan: kau duduk di samping saya.

Sukoharjo, 30 Januari 2008 Haris Firdaus


Tag